NABIRE – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua Tengah menetapkan sejumlah program prioritas pada tahun 2026 yang difokuskan pada perluasan akses layanan kesehatan, penguatan fasilitas, serta peningkatan kualitas pelayanan hingga ke daerah terpencil.
Sekretaris Dinas Kesehatan Papua Tengah, drg. Yohanes Tebai, M.H.Kes., saat ditemui wartawan di ruang kerjanya mengatakan bahwa salah satu fokus utama adalah memastikan pelayanan kesehatan tetap tersedia dan mudah diakses oleh masyarakat.
“Pelayanan kesehatan sekarang dilakukan berbasis klaster, seperti klaster lansia, ibu dan anak, serta klaster lainnya, sehingga lebih tepat sasaran,” ujar YohanesYohanes (05/02/2026) kemarin.
Pasien akan diarahkan sesuai kebutuhan layanan masing-masing. Lansia, misalnya, akan mendapat pelayanan khusus di klaster lansia agar penanganannya lebih optimal.
Dinkes Papua Tengah juga mendorong program kunjungan kesehatan dari rumah ke rumah sebagai langkah deteksi dini penyakit sebelum berkembang menjadi kondisi berat. Program ini akan dijalankan oleh kader Posyandu di puskesmas percontohan di setiap kabupaten.
Selain itu, Dinkes Papua Tengah juga menerapkan sistem Kampung Sehat yang dipadukan dengan seluruh program kesehatan, sejalan dengan kebijakan nasional Cek Kesehatan Gratis.
Orang Asli Papua (OAP) yang berobat di puskesmas maupun rumah sakit cukup membawa Kartu Keluarga, karena seluruh biaya kesehatan OAP akan difasilitasi Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui pengantar ke BPJS.
Yohanes juga menegaskan komitmen Dinkes Papua Tengah untuk menuntaskan penyakit HIV/AIDS dan malaria melalui program terpadu di seluruh wilayah provinsi. Dengan demikian, diharapkan masyarakat Papua Tengah dapat menikmati layanan kesehatan yang lebih baik dan berkualitas.