NABIRE – Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua Tengah, Freny Anouw, S.I.P., menyampaikan himbauan strategis kepada seluruh masyarakat, khususnya kalangan intelektual dan generasi muda, terkait upaya menekan laju prevalensi HIV/AIDS di wilayah tersebut. Dalam upaya preventif penanggulangan penyakit tersebut, dia menyoroti penggunaan aplikasi michet sosial berbasis lokasi, yang sering disebut sebagai “Aplikasi Biru” atau aplikasi serupa.
Berdasarkan tinjauan lapangan dan analisis data terkini, Anouw secara tegas menyatakan bahwa penyalahgunaan platform digital tersebut berkontribusi signifikan terhadap peningkatan frekuensi perilaku seksual berisiko, yang menjadi katalisator utama dalam mempercepat transmisi virus HIV di kalangan produktif.
“Kita harus mengambil langkah tegas untuk melindungi masyarakat, terutama generasi muda kita. Penyalahgunaan aplikasi semacam ini bukan hanya masalah teknologi, tetapi juga masalah kesehatan yang dapat mengancam masa depan Papua Tengah,” ujarnya.
Himbauan ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab moral dan birokratis untuk menyelamatkan populasi masyarakat Papua Tengah dari ancaman epidemi, dengan tujuan memutus rantai penularan di tingkat akar rumput. Anouw juga menekankan bahwa tindakan preventif jauh lebih efektif dan bijaksana dibandingkan tindakan kuratif.
“Kesadaran individu dalam membatasi akses terhadap platform yang berisiko adalah kunci utama keberhasilan program penanggulangan HIV/AIDS kita,” jelasnya.
KPA Provinsi Papua Tengah berkomitmen untuk melakukan pengawasan berkelanjutan dan menindaklanjuti permasalahan ini secara komprehensif. Sosialisasi dan edukasi akan terus ditingkatkan guna mengintegrasikan kesadaran kesehatan reproduksi dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kesimpulannya, masyarakat diimbau untuk lebih selektif dan bijak dalam menggunakan teknologi komunikasi. “Mari kita bersinergi demi mewujudkan Papua Tengah yang sehat, berkualitas, dan bebas dari ancaman HIV/AIDS,” pungkas Anouw.