MENU Kamis, 20 Agu 2026

Koteka Phobia: Menjustifikasi Pandangan Miring Orang Luar

waktu baca 8 menit
Rabu, 19 Agu 2026 21:21 20 admin

Oleh Felix Degei, S. Pd., M. Ed., Gr.

Pendahuluan

Tanah Papua terkenal sebagai surga terakhir (the last paradise) di bumi karena kaya akan alam dan biodiversitasnya menurut beberapa media internasional seperti National Geographic, British Broadcasting Corporation (BBC) dan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Meskipun demikian, hingga kini masih banyak orang yang memiliki pandangan miring khususnya tentang busana adat pria sejati yang konon lazim dijumpai di sepanjang pegunungan pedalaman Papua, yakni ‘Koteka’. Bagi banyak orang luar Papua, Koteka menjadi bahan lelucon, meme, bukti ketertinggalan, primitif bahkan dianggap vulgar, hedon hingga pornografi. Padahal sesungguhnya busana tersebut memiliki nilai filosofis yang luar biasa karena ada sejarah, fungsi dan sarat nilai budaya. Tulisan ini adalah sebuah otokritik atas gaya hidup kawula muda hingga pejabat Orang Asli Papua (OAP) saat ini yang semakin gugup, gagap, kurang percaya diri, takut, jijik dan merasa ketinggalan ketika mengenakan busana kebesaran pria sejati dari Pedalaman Papua. Selanjutnya fenomena inilah dalam kajian ini disebut ‘Koteka Phobia’. Ulasan ini hendak membuka khazanah berpikir semua orang agar menjadi pribadi yang dapat menghargai dan menerima perbedaan.

Apa itu Koteka Sesungguhnya?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Koteka adalah penutup kemaluan laki-laki berbentuk lonjong, terbuat dari sejenis buah labu yang dikering, dipakai oleh beberapa suku di Papua. Sementara dalam buku ‘Tii Koteka’ karya Nason Pigai (2026:83) secara detail mengulas mengenai pandangan hidup Suku Mee bahwa koteka memiliki simbol kedewasaan, kehormatan, dan tanggung jawab sosial. Sehingga lebih lanjut ia menegaskan bahwa seseorang berkoteka bertanda ia siap menjalankan peran dalam kehidupan komunitas. Dalam prolog buku tersebut Antropolog Universitas Cenderawasih, Ibrahim Peyon, Ph.D., menegaskan koteka sebagai simbol identitas bangsa menggambarkan sebagai citra, gambar, ciri, karakter, kekhasan dan kepribadian dari berbagai etnik pemilik koteka tersebut (2026: x & ix). Dengan demikian, Koteka sesungguhnya tidak bisa dipahami hanya sekedar sebagai penutup alat kemaluan. namun menampilkan citra identitas jati diri pria sejati dewasa yang bertanggung jawab.

Bagaimana ‘Koteka Phobia’ Menjustifikasi Pandangan Miring Orang Luar?

Entah sadar atau tidak, sesungguhnya ‘Koteka Phobia’ cepat atau lambat sudah, sedang dan akan merongrong entitas budaya dan integritas Suku-Suku di Pedalaman Papua. Ada tiga potensi tahapan pembenaran pandangan miring dari orang luar akibat ‘Koteka Phobia’, antara lain:

Pertama: Dehumanisasi Lewat Visual

Tontonan dengan semakin banyak Orang Pedalaman Papua yang malu dan takut kenakan Koteka akan membangun kesan dengan narasi mendegradasikan harkat, martabat dan derajat Orang Asli Papua (OAP). Akan ada kesan bahwa jika masih ada yang berkoteka maka orang dan daerah atau negerinya masih belum maju dan berkembang. Padahal kini sudah banyak Orang Papua yang telah terdidik bahkan ada yang sudah jadi Guru Besar (Profesor), menteri dan hampir semua pimpinan daerah dalam kerangka Undang-Undang Otonomi Khusus (UU Otsus) adalah putra/i daerah asli Papua. Kini tantangannya adalah berani atau tidak ketika hari raya besar, atau acara adat orang-orang terdidik tersebut kenakan Koteka. Hal ini menjadi pertanyaan besar. Jika tidak, maka tentu tontonan yang ada kini justru akan semakin memperburuk citra OAP di mata dunia. Karena hal yang akan terpatri di benak orang luar Papua adalah Orang Asli Papua sementara berkoteka bertanda masih tertinggal.

Kedua, Pembenaran Diskriminasi

Pembenaran akan pandangan miring yang kedua adalah munculnya dikotomi bermotif rasis yang menjadi sebuah kewajaran. Pandangan yang berpotensi muncul misalnya wajar tidak dapat pekerjaan atau kepercayaan dan tanggung jawab karena masih berkoteka. Diberikan hanya pada jenis-jenis profesi yang tidak profesional alias buruh, pembantu dan atau bawahan. Bahkan selanjutnya akan muncul konsep pengetahuan baru bahwa kasihan Orang Papua karena masih belum maju. Intinya Koteka digunakan sebagai alasan untuk tidak memperlakukan Orang Papua setara dengan suku-suku lain di Indonesia. Padahal sesungguhnya setiap ciptaan Tuhan adalah sama dan setara di hadapan hukum dan Tuhan (everyone is equal before the law and God).

Ketiga, Menghapus Konteks

Orang asli dari Pedalaman Papua mulai tidak berani mengenakan pakaian adatnya bertanda identitas keaslian baik asal maupun status sosial mulai bergeser. Ketika Orang Asli Papua pedalaman mengenakan pakaian adat bukan dari daerahnya maka saat itu juga kita sedang mengingkari keaslian daerah yang sesungguhnya. Demikian ketika mengenakan pakaian adat yang tidak sesuai dengan peran (gender) dan jenis kelamin (seks) maka tentu akan mengdiskreditkan eksistensi dari status sosial yang sesungguhnya. Konon orang pedalaman Papua membuat rupa dan motif pakaian adatnya diadaptasi dengan potensi sumber daya alam dan lingkungan serta iklim yang ada di sana agar ramah penggunaan dan lingkungan (eco-friendly). Dengan demikian, Koteka dianggap sebagai busana hasil adaptasi cerdas bagi kaum Adam. Sehingga jika generasi kini tidak berani menampilkan busana yang sesungguhnya maka kita sedang menjadi bagian dari perusak warisan leluhur.

Apa Potensi Dampaknya Bagi Orang Asli Papua?

Dampak fundamental sesungguhnya yang akan dialami oleh Orang Asli Papua akibat ‘Koteka Phobia’ adalah terdegradasinya integritas diri sebagai putra dari Pedalaman Papua Sejati. Filsuf Tiongkot Konfusius (551-479 SM) menegaskan bahwa setiap insan patut hidup dengan menempatkan integritas dan prinsip hidup di atas segalanya.

Berikut tiga potensi dampak yang akan terjadi akibat ‘Koteka Phobia’, antara lain:

Pertama: Malu dengan Identitas Sendiri

Kini banyak orang asli pedalaman Papua yang sudah tidak berani, jijik dan merasa diri ketinggalan (primitif) lagi ketika mengenakan busana Koteka. Meskipun dalam acara atau kegiatan bertajuk budaya misalnya festival budaya, ragam acara resmi dan penting seperti Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Sumpah Pemuda, Hari Kartini, Ulang Tahun Kemerdekaan, Pahlawan dan hari besar serupa lainnya. Intinya Orang Asli pedalaman Papua akan merasa minder hingga merusak citra dirinya di mata orang lain karena tidak memiliki pijakan budaya yang jelas.

Kedua: Budaya Dipinggirkan

Dampak semakin banyak orang yang enggan menggunakan busana ‘Koteka’ bisa berakibat pada pengabaian hingga larangan mengenakannya. Dengan demikian hal yang tidak bisa dipungkiri adalah OAP akan semakin termarjinalisasi dalam semua aspek kehidupan. Jika itu terjadi maka sesuai dengan temuan Kajian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2009 tentang Empat Akar Konflik di Tanah Papua terutama poin (2) Diskriminasi dan Marjinaliasi Orang Asli Papua (OAP). Sehingga selanjutnya ia bisa menjadi salah satu sumber konflik baik vertikal maupun horizontal di Tanah Papua.

Ketiga: Rasisme Dibungkus Candaan

Akibat OAP ‘Koteka Phobia’ bisa berujung pada candaan dan cemoohan yang berbauh rasis. Misalnya, pernyataan ‘dasar anak koteka’. Ujaran tersebut orang bisa mengira hanya bercanda namun sesungguhnya adalah penghinaan. Apalagi pernyataan tersebut keluar dari mulut saudara non-OAP yang kebetulan memiliki pandangan miring mengenai busana Koteka dan suku pemiliknya. Sehingga akhirnya menjadi pernyataan menyerang jati diri suatu bangsa. Inilah realitas yang akan terjadi ketika para pemilik budaya tersebut apatis dengan kiat pelestariannya.

Bagaimana Harapannya?

Giat melawan ‘Koteka Phobia’ bukan berarti semua orang harus dan wajib memakai Koteka. Akan tetapi hal terpenting adalah bagaimana membangun wawasan pengetahuan yang baik dan benar tentang Koteka dengan segala nilai filosofis yang terkandung dalamnya. Setidaknya ada tiga aksi yang dapat dilakukan dalam upaya melawan ‘Koteka Phobia’, antara lain:

Pertama: Edukasi, Bukan Ejekan

Semoga kelak semakin banyak orang atau lembagan ikut ambil bagian dalam kampanye bahwa ‘Koteka’ adalah identitas atau jati diri suatu bangsa. Ia bukan suatu paham ketelanjangan (hedonism). Akan tetapi ia murni lahir atas daya upaya kerja keras oleh suku pribumi (indigenous people) khususnya dari ragam suku di Pedalaman Papua.

Kedua: Tampilkan Papua yang Utuh

Kita berharap agar siapa saja yang meliput, meneliti, menulis dan memberitakan tentang Papua memuat ragam konten yang utuh (holistik). Kajian yang objektif dan profesional agar banyak orang tidak salah dalam memahami Manusia Papua dengan segala potensi alamnya.

Ketiga: Hormati Pilihan

Setiap mahkluk hidup memiliki hak asasinya masing-masing. Tidak perlu ada amarah, dengki, dendam antara sesama baik OAP maupun non-OAP. Intinya kita tidak bisa memilih mau menjadi suku atau bangsa tertentu. Akan tetapi, hal yang bisa kita lakukan adalah bagaimana mau hidup lebih baik dan beradab terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

Perlu diketahui bersama bahwa Koteka tidak membuat seseorang lebih rendah akan tetapi justru mata yang melihat dengan rasa takut dan hati yang menolak untuk memahami dan menerimanya.

Penutup

Entah sadar atau tidak, kini kebanyakan Pria Orang Asli Papua dari pedalaman sudah terpapar sejenis gangguan kecemasan berupa rasa takut yang berlebihan untuk mengenakan busana kebesarannya yakni ‘Koteka’ dalam berbagai kesempatan. Oleh sebab itu, fenomena tersebut selanjutnya disebut ‘Koteka Phobia’. Gejala psikologi tersebut terkesan memperkuat sekaligus menjustifikasi jika busana ‘Koteka’ benar mengandung lelucon, meme, bukti ketertinggalan, primitif bahkan dianggap vulgar, hedon hingga pornografi. Padahal ide berbusana demikian murni lahir dari hasil daya, karya dan karsa dengan penuh arif lokal dari Orang Pedalaman Asli Papua Tengah. Oleh sebab itu, kini menjadi kewajiban setiap insan baik perorangan maupun lembaga untuk mengkampanyekan sekaligus edukasi bukan ejekan, membumikan Papua secara utuh (holistik) sambil menghargai pilihan hidup setiap insan.

Akhir kata, khusus bagi pria sejati dari Pedalaman Papua tidak ada pilihan lain selain ragam nilai budaya saatnya dibudayakan sejak dini. Mari kita menjadi contoh (role model) yang baik agar kelak kita diguguh dan ditiru oleh generasi penerus bangsa Papua.

*Penulis adalah pegiat pendidikan khusus Orang Asli (Indigenous Education) yang tinggal di Nabire Papua Tengah.

Arsip

  • Pemprov Papua Tengah Harapkan Layanan Hukum Jangkau Kampung

STATISTIK PEMBACA

LAINNYA