MENU Jumat, 30 Okt 2026

Festival Kopi Papua Tengah 2026: Delapan Kabupaten Adu Kualitas Biji dan Stand Terbaik di Nabire

waktu baca 3 menit
Jumat, 30 Okt 2026 06:42 19 admin

NABIRE– Pelaksanaan Festival Kopi Papua Tengah 2026 memasuki hari kedua pada Jumat (30/10/2026) di Aula KSK Bukit Meriam, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Morgo, Kabupaten Nabire. Suasana terpantau aman dan kondusif dengan antusiasme pengunjung yang ingin mengenal potensi kopi lokal serta produk unggulan UMKM dari delapan kabupaten di wilayah tersebut.

Hari kedua festival difokuskan pada penilaian sejumlah kategori lomba yang melibatkan peserta dari seluruh kabupaten. Ketua Panitia Festival Kopi Papua Tengah 2026, Andreas Gobai, menjelaskan bahwa penilaian mencakup tiga kategori utama: stand terbaik, biji kopi terbaik, dan jumlah kopi terbanyak yang dibawa masing-masing perwakilan kabupaten.

“Penilaian tidak hanya melihat kuantitas kopi yang dipamerkan, tetapi juga memperhatikan kualitas biji kopi, proses pengolahan, penyajian, hingga kemampuan peserta dalam memperkenalkan produk unggulannya,” ujar Andreas.

Ia menegaskan bahwa tim juri yang kompeten telah melakukan penilaian secara objektif, jujur, dan profesional terhadap seluruh stand, termasuk perwakilan delapan kabupaten, pelaku UMKM, dan komunitas kopi. Hasil penilaian akan diumumkan secara terbuka pada penutupan festival.

Sementara itu, dalam pembukaan festival sehari sebelumnya, Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa menekankan bahwa pengembangan kopi di wilayah tersebut harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani. Ia menilai kopi Papua Tengah memiliki potensi besar namun masih berkutat di pasar lokal.

“Kopi Papua Tengah tidak seharusnya hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi perlu dikembangkan menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di pasar nasional,” ujar Meki di hadapan ratusan peserta yang terdiri atas petani, pelaku usaha, barista, dan pecinta kopi.

Gubernur menekankan bahwa peningkatan produksi harus dibarengi dengan penerapan praktik pertanian yang baik (*good agricultural practices*). Petani perlu menjaga kualitas tanaman, memanen buah kopi yang telah matang, serta memperhatikan proses pengeringan agar mutu produk tetap terjaga hingga ke tangan konsumen.

Meki juga menyoroti aspek kemasan sebagai faktor penting dalam meningkatkan daya saing produk. Menurutnya, produk kopi dengan cita rasa khas Papua Tengah perlu didukung tampilan kemasan yang menarik dan kompetitif.

“Produk dengan cita rasa baik harus didukung kemasan yang menarik agar nilai jualnya meningkat,” katanya.

Dalam paparannya, pemerintah provinsi menyebut sejumlah program pengembangan kebun kopi yang didukung anggaran khusus. Program tersebut mencakup pengembangan kebun di Kabupaten Intan Jaya seluas sembilan hektare, Kabupaten Puncak delapan hektare, dan Kabupaten Deiyai delapan hektare.

Andreas Gobai mengakui bahwa penyelenggaraan festival tahun ini masih memiliki kekurangan. Namun, ia berharap kegiatan ini menjadi langkah awal yang solid untuk membangun penyelenggaraan yang lebih baik di masa mendatang.

“Generasi muda Papua harus mampu menjaga kualitas dan meningkatkan kemampuan di bidang perkebunan kopi maupun profesi barista, bukan hanya sekadar bangga terhadap nama besar kopi Papua,” pesannya.

Festival Kopi Papua Tengah 2026 diharapkan dapat menjadi agenda berkelanjutan yang memperkuat promosi kopi lokal, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membuka peluang pasar yang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha kopi di delapan kabupaten. Dengan demikian, kopi Papua Tengah dapat semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

STATISTIK PEMBACA

LAINNYA
error: Content is protected !!