MENU Kamis, 23 Apr 2026

Peringati IWD, Perempuan di Nabire Serukan Hentikan Kekerasan, Stop Stigma dan Lindungi Perempuan

waktu baca 3 menit
Sabtu, 7 Mar 2026 15:04 224 admin

NABIRE — Sejumlah massa di Nabire, Papua Tengah, menggelar aksi bisu dengan membentangkan berbagai spanduk berisi seruan menghentikan kekerasan, menghapus stigma, serta melindungi perempuan dan anak. Aksi tersebut berlangsung di lampu merah depan SMP YPPK Antonius Nabire, Sabtu (7/3/2026) siang tadi.

Aksi ini digelar dalam rangka memperingati International Women’s Day (IWD) yang jatuh pada 8 Maret 2026 dengan tema “Give To Gain” (Memberi untuk Mendapatkan). Para peserta aksi berdiri di pinggir jalan sambil membentangkan pamflet yang berisi tuntutan terkait perlindungan hak perempuan, sekaligus membagikan seruan hentikan kekerasan dan lindungi perempuan.

Koordinator Solidaritas Perempuan Papua Tengah, Paola S. Pakage, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap berbagai persoalan yang masih dialami perempuan, mulai dari kekerasan, diskriminasi hingga stigma sosial. “Melalui aksi ini kami menyerukan agar kekerasan terhadap perempuan dihentikan. Perempuan berhak hidup aman dan damai,” ujarnya.

Dalam aksi tersebut, massa juga membentangkan spanduk bertuliskan “Dengarkan suara mama-mama di tanah konflik. Perempuan ingin hidup aman dan damai. Hentikan kekerasan, lindungi perempuan. Perempuan bertahan, dunia harus peduli.” Selain itu, terdapat pula spanduk yang mempertanyakan perhatian media terhadap kondisi perempuan di daerah konflik dengan tulisan “Wahai berita aku bertanya, dimanakah liputan derita mama-mama di Ndugama.”

Ketua Kewita Nabire, Debora Nawipa, menyatakan masih banyak stigma yang melekat terhadap perempuan di masyarakat yang harus dihentikan. Ia menilai perempuan kerap dipandang secara tidak adil dan dibatasi dalam berbagai aspek kehidupan. “Ada stigma yang memandang perempuan hanya sebagai alat pemuas nafsu, budak dapur, dan mesin produksi anak. Stigma seperti ini harus dihentikan karena merendahkan martabat perempuan,” katanya.

Selain isu kekerasan dan stigma sosial, aksi tersebut juga menyoroti diskriminasi terhadap perempuan dengan status ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Massa menyerukan agar stigma terhadap ODHA dihentikan serta perempuan yang hidup dengan HIV/AIDS mendapatkan perlindungan dan perlakuan yang adil. Hal itu terlihat dari sejumlah spanduk yang bertuliskan “Hentikan stigma terhadap perempuan dengan status ODHA”, “Lindungi perempuan dari diskriminasi terkait HIV/AIDS”, serta “Bersama perempuan kita hentikan stigma HIV/AIDS.”

Ketua Asosiasi Pedagang Asli Papua (APAP) Nabire, Melo, menyatakan dukungannya terhadap aksi tersebut. Ia menilai perjuangan perempuan untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi harus menjadi perhatian semua pihak. “Kami mendukung upaya untuk menghentikan kekerasan dan stigma terhadap perempuan. Mama-mama Papua ingin hidup aman, bekerja dengan tenang, dan membesarkan anak-anak mereka dengan baik,” ujarnya.

Melalui momentum IWD 2026, para peserta aksi juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama memperjuangkan hak perempuan, termasuk dalam hal kesehatan dan hak reproduksi. “Kami berharap pemerintah, aparat keamanan, dan seluruh elemen masyarakat dapat lebih serius dalam melindungi perempuan dan anak dari kekerasan, diskriminasi, serta berbagai bentuk stigma yang masih terjadi di tengah masyarakat,” pungkas Melo.

LAINNYA
error: Content is protected !!