JAKARTA – Papuan Observatory for Human Rights (POHR) secara resmi menyatakan dukungan penuh terhadap rencana penyelenggaraan konser maestro tenor dunia asal Italia, Andrea Bocelli, dalam rangkaian ‘Romanza 30th Anniversary World Tour‘. Konser tersebut dijadwalkan berlangsung di Candi Borobudur, Magelang, pada 31 Oktober 2026, dan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026.
Direktur Eksekutif POHR, Thomas Ch. Syufi, dalam siaran pers yang diterima media ini pada Senin (12/10/2026), menilai kehadiran seniman legendaris tersebut sebagai momentum kebudayaan yang monumental. Ia menyebut acara ini sebagai salah satu perjalanan seni paling bergengsi dan bersejarah di abad ini bagi bangsa Indonesia.
“Sebagai seorang seniman tuna netra yang telah menginspirasi jutaan orang di tengah keterbatasan fisik, kehadiran Bocelli bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah perayaan atas resiliensi manusia dan keindahan seni universal,” ujar Thomas.
Menanggapi adanya tanggapan atau desakan pembatalan dari sejumlah pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI), POHR meminta secara hormat agar MUI dan seluruh elemen bangsa menghormati ruang ekspresi seni, budaya, serta hak masyarakat dalam berekspresi. Thomas menekankan agar tidak terjadi pencampuradukan antara karya seni murni dengan kepentingan politik praktis, maupun upaya monopoli kebenaran secara sepihak.
Mengutip pepatah Latin,”Ars longa, vita brevis” (seni itu abadi, sedangkan usia manusia itu pendek), Thomas menegaskan bahwa seni memiliki bahasa universal yang melampaui sekat-sekat geopolitik dan doktrin kelompok. “Seni dan musik melintasi sekat kemanusiaan dan politik, serta tidak sepatutnya disandera oleh polarisasi global,” tambahnya.
POHR juga menyoroti bahwa meskipun seluruh rakyat Indonesia, termasuk komunitas seni, memiliki kepedulian yang mendalam terhadap berbagai krisis kemanusiaan global—mulai dari situasi di Palestina, Ukraina, konflik di Papua, hingga ancaman gerakan ekstremis di berbagai kawasan Afrika—kepedulian tersebut tidak boleh dijadikan alasan subjektif untuk membatalkan pergelaran seni yang tidak memiliki hubungan kausal langsung dengan konflik-konflik tersebut.
Sebagai catatan global, keterlibatan Andrea Bocelli dalam berbagai acara internasional terbukti murni sebagai ekspresi perdamaian. Pada ajang pembukaan Piala Dunia 2026 di Meksiko, misalnya, lagu “DNA” yang dibawakannya dapat dinyanyikan secara bebas tanpa intervensi politik. Selain itu, melalui “Andrea Bocelli Foundation”, ia dikenal luas sebagai filantropis yang aktif dalam misi kemanusiaan, pendidikan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan masyarakat rentan di berbagai belahan dunia. Hal ini membuktikan bahwa sosok seniman ini justru membawa misi sosial yang sejalan dengan nilai kemanusiaan universal.
Oleh karena itu, POHR mendesak Pemerintah Republik Indonesia dan aparat kepolisian untuk menjamin, mengawal, serta mengamankan jalannya konser bergengsi ini agar berlangsung sukses dan kondusif.
“Jaminan keamanan dan kepastian hukum sangat penting demi menjaga reputasi Indonesia di mata internasional sebagai negara yang aman, toleran, dan menghargai peradaban seni dunia,” pungkas Thomas.