
Oleh: Wigamba Wagamba (Raja) Ke XVI Bulibega Djoenggonao, S.P., M.Si.
Peristiwa pertama dan jabat tangan pertama dengan orang kulit putih dilakukan oleh Raja Papua Wiwao ke XV Djoenggonaoe pada tanggal 6 Februari 1935 di Modio, dan pada tanggal 14 Februari 1935 Lembah Paniai diberkati oleh Pastor H. Tillemans, MSC. Hari itu adalah hari kehadiran Tuhan bagi orang-orang pegunungan di tanah mereka.
Kemudian, dengan diterbitkannya buku tentang Kerajaan Mbumbumbamba di bumi Cenderawasih, Papua, nama rajanya pun telah diumumkan. Biar kita semua mengetahui tentang nama pulaunya, nama kerajaannya, serta rajanya. Sekarang, bintang sudah terbit di ufuk timur Indonesia, yaitu Hegenagai atau Papua, supaya bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa di dunia mengetahui eksistensinya bahwa: Ksatriaan Papua bukan nama pulau, melainkan nama ksatriaan. Semua orang mengatakan nama Papua berasal dari bahasa Tidore. Jika itu benar, maka tidak salah juga karena mereka datang memengaruhi manusia bagian timur, sehingga dalam bahasa raja, kosakata itu menyatakan suatu saat saya akan mencabut kamu dan membuangmu pergi. Jadi, jangan datang mengganggu bangsa saya. Itulah yang disebut Papua, makanya orang Ternate mengatakan “Tidole” bukan “Tidore.” Artinya, menyampaikan bahasa yang menyakitkan, bukan dalam bahasa Tidore atau Ternate, melainkan bahasa Papua yang disampaikan kepada mereka. Itu yang dianggap bahasa mereka, bahasa dari Raja ke X abad ke-7. Dia sampaikan tidak ada raja, itu kebalikan ucapan.
Nama itu direkayasa oleh Dr. Jean Victor de Bruijn, setelah beliau pindah ke Biak dari Paniai tahun 1940-an. Beliau bermain demi kepentingan Freeport untuk Amerika. Beliau membujuk Nicolas Youwe, E.J. Bonei, dan Kaisepo bahwa Papua itu dalam bahasa Tidore. “Kita gunakan bahasa ini,” agar kedua beliau ini mendukung pergerakannya. Pada tahun 1946, Indonesia merdeka, beliau takut dengan perjanjian Wigamba Wagamba Igoemaboei Djoenggonaoe kepadanya, M.O.U. “Papua” itu. Nama itu tidak boleh banyak diketahui oleh manusia bangsa Hegenagai dan muncul di mana-mana, sehingga akan mengganggu konsentrasi bisnisnya. Maka, nama Papua diganti dengan IRIAN (Ikut Republik Indonesia Anti Nenderland).
Siapa nama rajanya Papua sekarang? Nama rajanya Papua sekarang adalah Bulibega (Burung Garuda). Bulibega baru mulai keluar ingin memperkenalkan diri tampil di hadapan semua bangsa-bangsa Hegenagai Papua maupun dunia melalui goresan buku kepada bangsa-bangsa lain di dunia.
Pengakuan ini, walaupun Anda benci, iri hati, sakit hati, cemooh, dengki, menyangkal, tetapi itulah yang terbaik bagi saya. Raja Hegenagai Papua bersamamu ke mana pun engkau pergi, karena dalam sakumu sudah ada namaku Raja Papua, dalam ijazahmu sudah ada namaku Bulibega, dalam uang kertasmu sudah ada namaku Bulibega Raja Papua, dalam KTP-mu sudah ada namaku, dan semua berkaitan dengan urusan pemerintahanmu sudah ada namaku. Namaku Raja Papua ada di mana-mana dan di mana-mana namaku bersamamu. Maka Indonesia menjadi kuat. Jangan bermain-main dengan Raja Papua Burung Garuda. Kekuatan Indonesia ada di tanganku. Raja Papua ke XV mengatakan, “Jangan menceritakan cerita ini kepada istri dan anak-anakmu, karena langkah-langkahmu sudah ada di dalam celah tanganku” (Andi Mbua dole kago aga meane zaune go dikimbua me, Agati dende dua go Ane tagangga ga kage dio).
Mengapa ayah memberikan nama saya Burung Garuda? Karena Burung Garuda adalah kerubnya raja atau dewanya raja yang ditembak mati oleh Ir. Soekarno pada tanggal 5 September 1939. Maka, suatu saat membunuh anak raja, sengaja atau tidak sengaja, nama Papua akan dicabut sehingga diberikan nama “Bulibega” sebagai poganya, artinya (penangis, penada, pemantul, penentang, penyangkal).
Secara resmi menyatakan bahwa Raja Papua sudah keluar, diumumkan ke media melalui tulisan buku Kerajaan Mbumbumbamba dan menyampaikan kepada Presiden Republik Indonesia, DPR Republik Indonesia, MPR/DPD Republik Indonesia, Kapolri, Panglima TNI, Kepala BIN, dan seluruh kementerian Republik Indonesia dan lain-lain. Dengan surat Nomor: 5/Wiwao/Mon/Papua/XI/2022 tertanggal 3 November 2022, perihal: Deklarasi Kerajaan Mbumbu mbamba hari kelahiran Raja pada tanggal 22 Juni 2023 dan kemudian tanggal 26 Januari 2023 resmi ditetapkan hari ulang tahun lambang negara Burung Garuda, sebagai hari resmi pengakuan oleh bangsa Indonesia secara global.
Namun, militer Indonesia datang menebang pucuk pohonnya manusia Papua pada tanggal 15 Mei 2023, suaranya bergema 3 kali berturut-turut di Kilometer 54 di Gunung Gamey Topo. Mengelabui terjadinya pembunuhan itu, banyak anak-anak pejabat mati dibunuh dari tanggal 18 Mei 2023-31 Desember 2023 oleh penjahat kolonialisme Indonesia sebanyak 17 orang. Ini musim musibah ke II. Musibah pertama matinya 9 pastor dan pendeta, tulisan ini boleh epos untuk umum.
Selanjutnya perlu saudara ketahui, selama ini Kedutaan dan Menteri Orang Papua minta merdeka atau tidak sudah selesai, DPR RI, MPR/DPD pusat sampai daerah punya bagian sudah selesai, Gubernur sampai Bupati wali kota orang Asli Papua punya kesempatan sudah selesai, PNS, Intelektual dan Tokoh masyarakat, Kepala Suku, Gereja dan masyarakat Papua, punya bagian sudah selesai. Ilustrasinya, “bicara dengan dinding tidak memberikan suara, berbicara dengan hutan tidak ada suara. Berbicara dengan sungai dan air tidak memberikan jawaban, sekarang tinggal kesempatan kepunyaan Raja”.
Mereka lawan masyarakat yang masih bodoh dengan senjata, lawan dengan anak panah busur sudah selesai. Raja Papua Raja Moni memberikan suara yang paling terakhir. Bahwa Raja Moni atau Raja Papua memiliki Drone terjahat pemusnahan manusia di permukaan bumi. Terakhir hanya satu kali buka mulutku sudah selesai dengan tulisan buku. Kekuatannya baca dalam buku Kerajaan Mbumbumbamba, halaman 111 point 5 dan halaman 215. Buku ini sudah bagikan apa isinya. Raja tidak ada punya senjataku, siapa yang melawan, jangan sampai bibirku bergerak dalam waktu 1 detik, suara itu sangat berguna. Jika Raja mencabut namanya, maka segala logo yang berhubungan dengan namaku Burung Garuda akan gugur sendirinya tanpa diperintahkan, seluruh yang berlogo Burung Garuda akan gugur sendirinya. Papua bukan tanah kosong dan miskin. Batas pengakuan boleh membaca surat kepada Kapolri No: 29/wiwao-moni-papua/VI/2024 tertanggal 4 Juni 2024 perihal: Laporan Kronologis pembunuhan KIZ oleh Polisi Indonesia. Isi surat Tanya kepada Kapolri.
Kerajaan ini bukan pergi pungut di pinggir jalan dan datang mengakui diri sebagai Raja. Tidak, hanya menunggu anak-anak selesai mengenyam pendidikan saja. Jadi diam, bukan karena takut, Raja tidak mengenal takut, Raja tidak mengenal malu, Raja tidak mengenal kaget dan Raja tidak mengenal lupa hanya saya sayang manusia. Karena dewa atau wiwao sedang menanti suara Raja. Maka segera pengakuan dan penghukuman orang-orang yang membawa berencana membunuh Raja ke XVII Papua itu segera diproses sebelum tanggal 15 Mei 2028. Raja adalah saya mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi dan yang telah terjadi.
Dalam bahasa Raja Moni pemakaian bahasa menggunakan waktu yaitu sekarang, nanti, lalu dan akan datang. Paiya = cabut (now = sekarang), Paindi = cabut (nanti = already), Pami = cabut (lalu = last) Papua = akan cabut (akan datang = next). Wasiatnya Raja ke X hal 132 tulisan buku Raja adalah “Uzi hega ta aga sigindi mene digi go, A andi dega kana ga dua me, A togao andi doga ta wa au zoba ta du hau wao,” artinya siapa yang kuat dan melawan kamu, buat seperti saya, saya ada di belakang kamu, saya akan dikasih guling mereka ke dalam sungai”. Wasiat ini ditulis 28 tahun yang lalu.
Bapak Presiden RI, mohon Menetapkan Kerajaan Mbumbumbamba di bumi Cenderawasih Papua, supaya kita kerja sama. Perlu diketahui sedikit, karena angka 22 dari jumlah angka hari ulang tahun Jakarta ke 499 mendapat angka 22 tidak akan memperoleh angka ini dari jumlah 001-498. Hari kelahiranku sebagai kebesaran Indonesia dihadapan Tuhan dan manusia menetapkan Kerajaan karena tahun ke-28 Engkau datang ke Jakarta. Masuk tahun ini.
Jika Presiden Republik Indonesia tidak menetapkan Kerajaan Mbumbumbamba, mulai pada tanggal 15 Mei 2028 tercabut nama Papua dan Burung Garuda serta PT Freeport Indonesia akan gugur selamanya dan semua metasomatis yang dibawa keluar dari Istanaku akan dipanggil kembali pulang karena Indonesia, Belanda dan Amerika mengganggu manusia Papua. Maka seluruh yang berlogo Burung Garuda akan Gugur sendirinya tanpa diperintahkan.
Militer Indonesia melawan dengan Raja silahkan melawan dengan pesan Raja I (pertama) 450 tahun sebelum masehi Buku Kerajaan Mbumbumbamba di Bumi Cenderawasih Papua, Halaman 111 pesan point nomor 5. Kalau tidak semua orang Indonesia dan dunia ready menerima Poga (penangis, penada dan pemantul, penentang dan penantang tulah, karena musibah dahsyat yang akan datang. Jika mereka tidak mengakui. Mereka memiliki buku ini akan selamat.
Pesan terakhir “moyangnya semuanya yang di bawa dari saungnya oleh bangsa-bangsa lain akan kembali pulang ke saungnya setelah 15 Mei 2028.
Raja Papua pemegang kuasa Raja Hegenagaj Papua.