
NABIRE – Keberhasilan membangun Papua Tengah tidak dapat berjalan hanya mengandalkan upaya pemerintah semata, melainkan memerlukan kolaborasi, sinergi dan kerja sama erat dari seluruh pihak, termasuk organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, serta tokoh adat. Hal itu ditegaskan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Papua Tengah, Albertus Adii.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat mewakili Gubernur Papua Tengah membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pemuda Katolik Komisariat Daerah Papua Tengah yang berlangsung di Aula LPP RRI Nabire, Jumat (24/4/2026).
Menurut Albertus, visi dan misi yang diusung Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2025–2029 hanya bisa tercapai jika semua komponen bangsa bersatu padu dan berbagi peran dalam setiap proses pembangunan.
“Pembangunan daerah ini membutuhkan kolaborasi, sinergi, dan kerja sama erat dalam mewujudkan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur periode 2025–2029,” ujarnya saat memberikan sambutan.
Ia menyebutkan, kepemimpinan saat ini berada di fase yang sangat krusial, karena menjadi masa peletakan dasar bagi kemajuan daerah ke depannya. Saat ini, pemerintah provinsi tengah fokus membangun fondasi yang kokoh di beragam sektor strategis, mulai dari pendidikan, ekonomi, sosial, pembangunan infrastruktur, hingga penguatan kehidupan demokrasi.
Fondasi yang dibangun saat ini, lanjutnya, akan menjadi pijakan kuat bagi generasi penerus untuk melanjutkan pembangunan yang berkelanjutan dan membawa dampak nyata bagi kesejahteraan seluruh warga Papua Tengah.
“Ini bukan sekadar melanjutkan pembangunan, tetapi memulai dan meletakkan dasar yang kuat untuk masa depan Papua Tengah,” tegas Albertus.
Dalam kesempatan itu, ia juga memberikan apresiasi khusus kepada Pemuda Katolik. Meski organisasi ini masih dalam tahap awal pembentukan dan pengembangan di wilayah tersebut, namun menurutnya sudah menunjukkan kontribusi positif dan peran nyata di tengah masyarakat.
Albertus menilai, keberadaan organisasi kepemudaan dan berbasis keagamaan memiliki fungsi strategis. Selain menjadi wadah pengembangan potensi generasi muda, kehadiran mereka juga membantu pemerintah memahami secara mendalam kondisi sosial masyarakat, sekaligus memastikan setiap kebijakan pembangunan tetap berlandaskan nilai-nilai luhur yang dipegang bersama.
Ia juga menekankan bahwa agama dan adat istiadat merupakan akar dan pondasi utama kehidupan masyarakat Papua Tengah. Oleh karena itu, hubungan kerja sama yang terjalin baik antara pemerintah, tokoh agama, dan tokoh adat menjadi syarat mutlak agar seluruh program pembangunan berjalan sesuai karakter, budaya, dan kebutuhan masyarakat setempat.
“Agama dan adat adalah fondasi utama kehidupan masyarakat Papua Tengah. Karena itu, sinergi antara pemerintah, tokoh agama, dan tokoh adat menjadi sangat penting,” katanya.
Sementara itu, Rakerda yang berlangsung selama dua hari ini diikuti puluhan pengurus dan anggota Pemuda Katolik yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota se-Papua Tengah. Dalam kegiatan ini, peserta akan membahas penyusunan program kerja, strategi penguatan organisasi, serta upaya meningkatkan peran aktif pemuda dalam memajukan daerah.