MENU Rabu, 20 Mei 2026

Uskup Timika Serukan Literasi Digital dan Pelestarian Tanah Adat dalam Misa Keluarga Besar Maybrat

waktu baca 2 menit
Rabu, 20 Mei 2026 13:11 65 admin

FAK-FAK – Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, menyampaikan pesan strategis mengenai urgensi literasi digital dan pentingnya menjaga keutuhan tanah adat kepada masyarakat adat Maybrat. Pesan ini disampaikan saat beliau memimpin Misa Kudus bersama keluarga besar Maybrat di Aula Lingkungan Sina, Kompleks Kampung Pasir, Kabupaten Fakfak, Rabu (20/5/2026) tadi.

Dalam khotbahnya, Mgr. Bernardus menyoroti bahwa tantangan kehidupan modern tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mental dan sosial melalui dunia digital. Ia memperingatkan umat tentang bahaya “pembunuhan karakter” (character assassination) yang marak terjadi di media sosial.

“Sekarang orang bisa saling membunuh karakter lewat HP dan media sosial. Orang saling menyerang, iri, dan menjatuhkan satu sama lain melalui dunia maya,” ujar Mgr. Bernardus.

Uskup Timika tersebut mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam bermedia sosial dan waspada terhadap berbagai modus kejahatan siber, mulai dari penipuan berkedok investasi dengan keuntungan instan hingga manipulasi identitas digital. Ia menekankan bahwa kepercayaan buta terhadap informasi yang beredar tanpa verifikasi dapat merugikan individu maupun komunitas.

Selain isu teknologi, Mgr. Bernardus juga menekankan pentingnya persatuan masyarakat adat Maybrat yang tersebar di berbagai wilayah administrasi. Ia mengajak umat untuk kembali pada nilai-nilai luhur leluhur, termasuk menghormati tanah pusaka dan tempat-tempat sakral sebagai pengikat persaudaraan.

“Kita harus kembali kepada nilai-nilai adat, tanah pusaka, tempat-tempat sakral, dan warisan leluhur yang menjadi pengikat persaudaraan,” tegasnya.

Mgr. Bernardus mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergoda menjual tanah warisan demi kepentingan ekonomi sesaat, yang berpotensi menghilangkan identitas generasi mendatang. Ia mendorong penguatan perlindungan tanah adat melalui pemahaman sejarah marga, hak ulayat, serta dukungan terhadap lembaga adat resmi.

“Jangan sampai karena uang sesaat, tanah warisan dijual begitu saja dan generasi mendatang kehilangan identitas mereka.”

Mengakhiri homilinya, Mgr. Bernardus mengajak seluruh warga Maybrat di Fakfak untuk tetap menjaga silaturahmi dengan kampung halaman dan memperkuat ikatan kekeluargaan. Ia menegaskan bahwa persatuan adalah kehendak Tuhan.

“Kita percaya Yesus sudah mendoakan kita supaya tetap bersatu. Kita adalah milik Tuhan, bukan milik dunia,” pungkasnya.

Kegiatan Misa ini menjadi momen refleksi bagi keluarga besar Maybrat untuk mempererat solidaritas di tengah dinamika zaman, sekaligus menguatkan komitmen untuk melestarikan budaya dan tanah leluhur.

LAINNYA
error: Content is protected !!