MENU Rabu, 20 Mei 2026

Uskup Perez “Mercusuar Kemanusiaan” dalam Revolusi Kuba

waktu baca 21 menit
Rabu, 20 Mei 2026 01:36 60 admin

Oleh Thomas Ch. Syufi*

Sejarah sering kali bercanda dengan ironi dalam perjuangan mewujudkan Revolusi Kuba yang dipimpin oleh Fidel Castro yang memudian menyeret Kuba ke jalur komunis-ateis. Bagaimana jika dikatakan bahwa nasib komunisme di Amerika Latin yang digerakkan oleh Fidel Castro, pernah berada di ujung tanduk, dan orang yang menyelamatkannya bukanlah seorang gerilyawan bersenjata, atau pasukan tempur serbah canggih dari negara komunis lain yang lebih maju, melainkan seorang Uskup Katolik Roma. Dia adalah Monsignor Enrique Perez Serantes (1883-1968), Uskup Santiago de Cuba.

Ini bukan fiksi, tapi nyata. Pada tanggal 26 Juli 1953, Fidel Castro yang saat itu berusia 26 tahun memimpin sekitar 150 militan muda menyerang Barak Mocanda (markas garnisun militer terbesar kedua di Santiago de Cuba, Kuba) untuk merebut senjata untuk melawan rezim diktator Fulgencio Batista. Namun, aksi nekat tersebut gagal dan banyak di antara mereka ditangkap dan dibunuh. Serangan frontal yang kurang perhitungan (gagal) itu mengakibatkan sekitar 50-70 orang dibunuh oleh tentara Batista setelah penyerangan selesai, dan sekitar 9-18 orang tewas dalam pertempuran berlangsung. Puluhan pelaku ditangkap, disiksa, dan kemudian diadili. Fidel Castro bersama sekitar 17 orang, termasuk adik laki-lakinya, Raul Castro, yang melarikan diri kepegunungan sekitarnya, Sierra Maestra, tetapi pasukan Batista mengepung mereka. Dalam posisi terjepit, maka menyerah adalah satu-satunya cara untuk menghindari eksekusi di tempat oleh tentara Batista yang melakukan operasi dipimpin oleh Letnan Pedro Sarria.

Akhirya, Fidel Castro menyerah. Namun Castro tidak menyerah begitu saja, ia memutuskan untuk menyerah setelah mendapat jaminan keselamatan dari Uskup Agung Santiago de Cuba, Monsignor Enrique Perez Serantes. Atas pengaruh serta kewibawaannya yang besar dan sangat dihormati oleh rezim Batista, Uskup Perez menuntut dan menerima jaminan keamanan bagi Castro bersaudara dari kepala militer Santiago, yang memastikan mereka tidak dibunuh di luar hukum (eksekusi di tempat) saat ditangkap. Uskup Perez bertemu komandan militer Santiago untuk menuntut jaminan keselamatan. Dengan kepiawaian negoisiasinya, ia menegaskan bahwa Castro tidak akan disiksa atau dibunuh jika menyerah. Atas bantuan mediasi Uskup tersebut, Castro ditangkap tanpa mendapatkan berlakuan kekerasan atau penyiksaan apa pun hingga menjalani proses peradilan.

Uskup yang sudah sepuh, sekitar 60-an tahun itu berusaha naik ke gunung Sierra Maestra untuk bertemu dengan Castro, agar keluar dari persembunyian dan menyerahkan diri kepada pihak militer secara aman. Tindakan penyelamatan ini secara tidak langsung telah membantu menyelamatakan Castro dari eksekusi di tempat oleh tentara Bastista. Setelah itu Castro ditangkap dan diadili di pengadilan. Proses pengadilan yang dihadapi Castro menjadi momen krusial yang yang mengubah kekalahan militer menjadi kemenangan moral dan politik. Di pengadilan Havana, Castro yang berlatar belakang pengacara lulusan Fakultas Hukum Havana, dengan karisma dan kemapuan retorikanya yang memukau, melakukan pembelaan diri. Dalam persidangan ia menggunakan retorika hukum melegitimasi gerakan revolusionernya. Pledoi Castro sebagai terdakwa atas tuntutan jaksa yang disampaikan di muka persidangan selama dua jam pada 16 Oktober 1953 yang dianggap pidato paling terkenal itu berjudul La historia me absolvera (Sejarah akan membebaskan saya).

Salah satu argumentasi Castro yang paling impresif adalah bahwa ketika hukum tidak lagi memberikan keadilan, perlawanan adalah kewajiban.

Meskipun upaya pembelaan diri maksimal yang dilakukannya, pengadilan tetap menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepada Castro. Castro hanya menjalani hukuman selama dua tahun di penjara (Presidio Modelo) di Isla de Pinos (kini Isla de la Juventud) sebelum dibebaskan melalui amnesti umum, yang diberikan oleh Batista dalam upaya untuk mendapatkan legitimasi politik dan memulihkan citra rezimnya yang dinilai otoriter. Jadi, alasaan Batista memberikan amnestI umum pada tahun 1955, termasuk membebaskan Fidel Castro dan rekan-rekannya dari penjara karena tekanan politik dalam negeri dan upaya meletimimasi pemerintahannya yang dianggap tak ramah pada demokrasi dan hak asasi manusia. Sekaligus berusaha mengurangi ketegangan dalam negeri sebagai upaya untuk memenangkan suasana politik menjelang rencana pemilu, di mana Batista ingin memantapkan posisi sebagai presiden resmi setelah kudeta militer 10 Maret 1952 tanpa pertumpahan darah yang menggulingkan pemerintahan Presiden Carlos Prio Socarras, beberapa bulan sebelum pemilihan umum dilangsungkan .

Batista berusaha membangun citra sebagai pemimpin yang demokratis, moderat, dan murah hati, meskipun ia sebenarnya adalah seorang diktator bengis dan kejam yang membungkam demokrasi dan sabotase hak asasi manusia sejak merebut kekuasaan melalui jalan kudeta 1952. Atas maraknya tekanan opini publik dan oposisi politik di Kuba, memaksa diktator Fulgencio Batista membebaskan semua tahanan politik, termasuk Castro pada 15 Mei 1955.

Setelah bebas dari penjara, Batista dan penasihatnya menilai pengaruh Fidel Castro telah melemah dan tak lagi menjadi ancaman berbahaya bagi rezimnya. Namun, anggapan Batista dan para loyalisnya itu luput, Castro masih berniat melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Batista. Pasca-menjalani hukuman selama 19 bulan dari vonis 15 tahun atas penyerbuan Barak Moncada tahun 1953 dan dibebaskan pada 15 Mei 1955, Castro sadar bahwa perlawanan terbuka di Kuba terlalu berbahaya baginya. Ia pun mengasingkan diri ke Meksiko untuk menghindari represi politik dan penangkapan kembali, sekaligus mempersiapkan gerakan revolusi (pemberontakan bersenjata) baru, yang dikenal sebagai Movimento 26 de Julio (Gerakan 26 Juli), yang akhirnya berhasil menggulingkan rezim Batista yang pro-Amerika Serikat pada 1 Januari 1959.

Di Meksiko, Castro mengorganisir para pelarian Kuba atas kekejaman diktator Batista dan mendirikan gerakan revolusioner 26 Juli (M-26-7) merujuk pada tanggal penyerbuan Barak Mocada tahun 1953 di Kuba. Ini sebuah gerakan gerilya yang dibangun dengan strategi perlawanan bersenjata, propaganda politik, dan dukungan rakyat. Selain itu, gerakan ini juga mengumpulkan dana, membeli senjata, dan melakukan pelatihan militer gerilya. Di Meksiko inilah, melalui adiknya, Rasul Castro mengenalkan Fidel Castro dengan Ernesto “Ch”e Guevara, seorang dokter muda Argentina yang beridelogi Marxis, yang sedang berkelana di Amerika Latin. Pertemuan kunci yang kemudian mengubah sejarah politik Kuba itu terjadi di Meksiko City pada musim panas, sekitar akhir Juni dan awal Juli 1955. “Che” Guevara yang baru lulus dokter dan hidup dalam pengasingan di Meksiko setelah kudeta Guantemala yang didalangi oleh Badan Intelejen Pusat Amerika Serikat (CIA) menggulingkan Presiden progresif Jacobo Arbenz pada tahun 1954 dan membawa Carlos Castillo Armas ke tampuk kekuasaan mulai tertarik dengan Castro. Setelah melewati percakapan panjang malam dengan Fidel Castro, “Che” terkesan dengan tekad dan kebulatan hati sosok yang dijuluki El Comandante (Sang Komandan) untuk mengubah Kuba itu awalnya direkrut sebagai dokter tim, namun kemudian menjadi komandan utama dalam pasukan gerilya. “Pada dini hari itu (diskusi panjang dengan Fidel Casro) saya telah (memutuskan) menjadi salah satu calon anggota ekspedisi,” “Che” kemudian mencatat. Semangat Castro dan ide-ide Guevara saling menyulut . “Itu seperti Lenin dan Trotsky, seperti Hitler dan Josep Goebbels, seperti Mao Tse-Tung dan Zhu De,’ tulis jurnalis Georgie Anne Geyer kemudian (Pbs.rg/wgbh/ American Experience).

Pada tanggal 25 November 1956, Fidel Castro, Raul Castro, Che Guevara, dan 79 orang lainnya berlayar dari Meksiko menuju Kuba menggunakan kapal Gramna. Kapal yang dibeli oleh Castro dari seorang pemilik warga negara Amerika Serikat melalui perantara di Meksiko atas bantuan dana dari mantan Presiden Kuba Prio atau Carlos Prio Socarras yang berkuasa dari tahun 1948 sampai dilengserkan oleh sebuah kudeta militer pimpinan Fulgencio Batista pada 10 Maret 1952 (tiga bulan sebelum pemilihan baru diadakan). Akhirnya, kapal pesiar Granma (nenek) yang dikemudi oleh kapten berhaluan sayap kiri Kuba yang pernah dipenjara, lalu bertemu Castro di penjara dan bersama Castro mendapat amnesti dari Batista tahun 1956 itu tiba di Oriente (Timur, salah satu dari enam provinsi di Kuba sampai tahun 1974) pada 2 Desember 1956. Kapal pesiar kecil yang menjadi simbol penting dalam sejarah Revolus Kuba tersebut dalam kondisi usang yang dirancang untuk hanya 12 orang itu kelebihan muatan: dipaksakan mengangkut 82 pejuang beserta senjata dan perbekalan.

Mendarat di Oriente, para pejuang anti-rezim Batista itu sempat dipukul mundur dan hanya 12 orang yang berhasil lolos ke pegunungan Sierra Maestra untuk memulai perang gerilya. Kelompok yang selamat dari pertempuran awal ini adalah Fidel Castro, Raul Castro, Ernesto “Che” Guevara, Camilo Cienfuegos, Fautino Perez, Juan Almeida Bosque, Ciro Redondo, Ramiro Valdes, Rafael Chao, Manuel Fajardo, Lucas Moran, dan Efigenio Ameijeiras. Akhirnya, perjuangan bersenjata terhitung dari Juli 1953 hingga Januari 1959 atau sekitar 5 tahun, 5 bulan, dan 6 hari berhasil menggulingkan diktator Kuba Fulgencio Batista pada 1 Januari 1959. Itulah, satu jaminan keselamatan oleh Uskup Serantes terhadap Fidel Castro dan adiknya, Raul Castro yang mengubah takdir sebuah bangsa bernama Kuba. Seandainya tanpa intervensi Gereja (jaminan Monsignor Enrique Perez Serantes) yang mencegah eksekusi langsung oleh tentara Batista setelah serangan gagal ke Barak Moncada (26 Juli 1953), Castro mungkin menjadi catatan kaki sejarah, bukan ikon dan pemimpin revolusi yang dikenal saat ini.

Tanpa mendiasi kemanusiaan Uskup Enrique, kemungkinan besar Fidel Castro dan Raul Castro dibunuh oleh pasukan Batista saat mengejaran, mengingat kekejaman tentara Batista membantai banyak pemberontak lain yang tertangkap. Dan, jika tanpa Uskup Perez, Gerakan 26 Juli mungkin kehilangan sosok pemimpin kharismatik bernama Fidel Castro. Revolusi mungkin tetap terjadi, tetapi mungkin dipimpin oleh tokoh lain dengan ideologi yang berbeda, atau mungkin gagal total. Bisa juga Revolusi Kuba mungkin tidak pernah terjadi di bawah pimpinan Castro, atau setidaknya tidak terjadi pada tahun 1959. Juga hubungan Kuba-Uni Soviet mungkin tidak pernah terjalin, yang mengubah total peta Perang Dingin di Amerika Latin. Hubungan Kuba-AS mungkin tidak akan berubah menjadi musuh bubuyutan Perang Dingin (1945-1991), termasuk tidak akan ada Invasi Teluk Babi yang diluncurkan AS (CIA) pada 17 April 1961 yang digagalkan oleh Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba di bawah pimpinan Fidel Castro pada 20 April 1961 dan Krisis Misil pada Oktober 1962—yang merupakan konfrontasi besar yang membawa Amerika Serikat dan Uni Soviet berada di ambang perang (bahkan bisa menjerumuskan ke dalam Perang Dunia III) lantaran kehadiran pasukan Soviet dan rudal bersenjata nuklir di Kuba.

Jika tanpa intevensi dan negosiasi Uskup Serantas untuk memastikan Castro ditangkap hidup-hidup dan tidak dihilangkan (eksekusi di tempat) oleh tentara Bastista, dan meminta Castro diadili secara hukum, tidak mungkin ada Gerakan 26 Juli, tidak ada pelarian Castro ke Meksiko, dan tidak ada pertemuan Castro dengan Ernesto “Che” Guevara pada awal Juli 1955. Dan, mungkin kediktatoran Batista akan bertahan lebih lama, dan Kuba belum tentu juga menjadi negara sosialis-komunis. Inilah ironi sejarah di mana seorang pemimpin gereja konsevatif yang sepuh menyelamatakan sosok yang kelak memimpin revolusi sosialis. Intervensi yang menjadi titik balik di mana takdir Castro berubah dari kematian menjadi kekuasaan dan kejayaan selama lebih dari setengah abad (1959-2008). Monsignor Serantes sebagai sosok prelatus yang kokoh dan berani berdiri menentang pasukan pembunuh demi menegkkan hak Fidel Castro untuk diadili secara adil (fair trial), bukan pembunuhan di luar hukum (extra judicial killing). Perez telah menjalankan fungsinya secara baik sebagai uskup, menjadi el escudo espiritual, perisai spiritual, yang dipandang sebagai pelindung dari jubah keuskupan yang menangkis peluru dan algojo Batista. Ini berpijak pada prinsip, “ideas are not to be murdered” (ide tidak untuk dibunuh). Atas usaha penyelamatan yang dilakukan oleh Uskup Serantes, Castro mendapat panggung di pengadilan yang menyampaikan pidato pembelaan (pledoi) dirinya yang terkenal, “La historia me absolvera” (sejarah akan membebaskan saya). Monsignor Perez yang menyabet gelar doktor dalam Teologi Suci, Hukum Kanonik, dan Filsafat Gerejawi di Universitas Kepausan Gregorina, Roma, Italia tahun 1910 dan residen (mahasiswa yang tinggal dan belajar) di Kolese Kepausan Amerika Latin (Pontificio Collegio Pio Latino Americano) kurun 1903 hingga 1910 itu merupakan seorang tokoh gereja yang disegani oleh rezim Batista dan sahabat keluarga Castro memiliki peran krusial dalam penyelamatan Castro.

Ia menegoisiasikan dengan otoritas militer Santiago, dengan menegaskan bahwa pemberontak (Castro cs) menyerah, harus diperlakukan secara manusiawi dan diadili secara adil, bukan eksekusi tanpa pengadilan. Castro akihirnya dipenjara tanpa dibunuh. Castro divonis 17 tahun penjara, namun setelah menjalani hukuman 19 bulan penjara, ia dibebaskan melalui suatu amnesti umum pada Mei 1955 atas desakan publik. Bila tanpa intervensi Uskup Perez, Revolusi Kuba 1959 mungkin tidak akan pernah terjadi, dan dunia akan mengenal Fidel Castro hanya sebagai seorang mahasiswa hukum yang nekat memperjuangkan kebebasan dan gagal. Namun, ironi sejarah berlanjut. Setelah Castro memenangkan revolusi dan berkuasa, ia membawa Kuba ke jalur komunisme yang merupakan musuh utama Gereja Katolik dunia, dan rezim komunis Kuba berbalik memusuhi Gereja Katolik, termasuk membatasi peran gereja sejak akhir 1950-an dan awal 1960-an. Uskup Serantes pun berbalik haluan menjadi kritikus vokal terhadap rezim komunis dan Fidel Castro yang menjabat Perdana Menteri sejak 1959-1976 dan Presien tahun 1976-2008 . Castro yang pernah bersama adiknya Raul Castro dibaptis secara Katolik dan belajar di sekolah Katolik sebelum pindah ke sekolah yang dikelola oleh kaum Jesuit, El Colegio de Belen di Havana (digembleng dalam tradisi pendidikan Jesuit yang sangat keras) itu menjadikan Kuba sebagai negara komunis-ateis. Ia melarang agama hidup di Kuba, menutup gereja-gereja, mengambil alih lebih dari 400 sekolah Katolik, mengusir 100-an pastor, dan mengirim para pastor ke ”kamp-kamp pendidikan, dan sekitar 80 persen masyarakat Katolik Kuba hidup di bawah rezim komunis (Kompas, 2015).

Tanpa turun tangan Uskup Enrique, seorang prelat yang dihormati, takdir Kuba adalah lembaran putih yang jauh berbeda dari sejarah yang kit abaca hari ini, sebuah bukti bahwa musuh terbesarmu bisa saja menyelamatkanmu, dan sebaliknya. Uskup Enrique, yang nantinya menjadi pengkritik keras komunisme Castro, adalah sosok yang membantu menegosiasikan keselamatan Castro dari kematian. Jika, ia membiarkan Castro mati dieksekusi oleh tentara Batista, Gereja di Kuba mungkin tidak akan mengalami represi komunisme yang terjadi kemudian. Intervensi ini didorong oleh rasa kemanusiaan dan tekanan dari keluarga para pemberontak (Castro cs), termasuk kedekatan Uskup dengan keluarga Castro. Itulah sejarah sering ditulis dengan tinta ironi, dan tidak ada tempat yang lebih jelas menggambarkan hal ini selain kisah Revolusi Kuba. Fidel Castro dikenal sebagai ikon komunisme yang membawa Kuba ke tangan Uni Soviet, menantang AS, dan berkuasa selama lima dekade. Namun, sejarah mencatat saat momen krusial di mana kelangsungan hidup Castro dan masa depan revolusi itu bergantung sepenuhunya pada tangan seorang tokoh yang justru ia lawan kemudian: Uskup Santiago de Cuba, Enrique Perez Serantes.

Kisah Uskup Perez menyelamatkan Castro adalah pengingat bahwa pahlawan dan penjahat dalam sejarah sering kali memiliki hubungan rumit. Dan, tindakan kemanusiaan seorang uskup di tahun 1953 secara tidak sengaja mengubah peta politik dunia, menempatkan gereja sebagai pelindung sekaligus korban dari revolusi yang ia bantu hidupkan. Bantuan Uskup Perez menjadi pengingat bahwa dalam gejolak politik, keputusan kemanusiaan yang diambil individu dapat mengubah jalan sejarah Kuba selamanya. Ia mengajarkan bahwa tindakan kemanusiaan di masa perang sering kali memiliki konsekuensi jangka panjang yang tak terduga. Uskup Perez selamatkan Castro sebagai seorang manusia, namun secara tidak sadar, ia membantu membatalkan pembunuhan terhadap pemimpin yang kemudian mengubah total wajah Kuba. “Saya bertindak dengan niat baik untuk menyelamatkan nyawa,” mungkin pemikiran sang Uskup saat itu, sebagaimana dikutip berbagai media. Namun, sejarah memiliki jalannya sendiri, termasuk Uskup mengeluarkan surat gembala untuk melawan komunisme di Kuba setelah revolusi selesai. Momen tahun 1953 itu menunjukkan sisi lain dari sejarah: di mana batas antara kawan dan lawan sering kali kabur oleh kemanusiaan. Uskup Perez bertindak berdasarkan prinsip perlindungan hak asasi manusia saat itu, tanpa disadari ia membiarkan sosok yang akan mengubah jalannya sejarah dunia tetap hidup, dan Castro menjadi satu-satunya pemimpin yang berani mengambil risiko mengibarkan bendera komunis di belahan Bumi Barat, “hidungnya” AS yang jaraknya hanya sekitar 150 kilometer antara Kuba dan AS.

Tanpa pertolongan Uskup Perez, “Sejarah akan membebaskanku “ (la historia me absolvera/history will absolve me)—pidato terkenal Castro ini mungkin tidak pernah diucapakan, dan Revolusi Kuba yang menggulingkan diktator Batista mungkin tidak pernah terjadi. Kisah ini mengajarakan bahwa sejarah Revolusi Kuba tidak sekadar tentang peluru dan ideologi, tetapi juga terkait hubungan kompleks antara gereja, negara, dan tokoh-tokohnya. Uskup Perez menunjukkan bahwa dalam konflik yang paling berdarah sekalipun, masih ada ruang intervensi moral. Ironi sejarah ini menegaskan bahwa langkah kecil kemanusiaan bisa berdampak besar, bahkan jika hasilnya bertolak belakang dengan harapan awal. Di mana nasib komunisme di Amerika Latin yang digerakkan oleh Fidel Castro—pernah berada di ujung tanduk, dan orang yang menyelamatkannya bukanlah seorang gerilyawan bersenjata, melainkan seorang Uskup Katolik Roma, Mgr. Enrique Perez Serantes. Ia memahami bahwa ketidakpuasan rakyat terhadap rezim Batista, dan didorong oleh desakan keluarga, dan niat mencegah pertumpahan darah yang lebih lanjut, Uskup harus turun tangan meskipun Castro menggelorakan perlawanan yang berhaluan Marxis-komunis.

Uskup awalnya menyambut baik jatuhnya Batista bahkan saat memenangkan revolusi pada tahun 1959, Castro secara khusus meminta Uskup Serantes berdiri di sampingnya saat ia berpidato merayakan kemenangan. Castro digambarakan Uskup Agung tersebut sebagai “orang yang memiliki bakat luar biasa”. Dalam pidatonya yang legendaris pada malam tanggal 1-2 Januari 1959, Castro mengundang Uskup Perez berdiri bersamanya di balkon Balai Kota Santiago de Cuba, tepat di seberang katedral, yang membuka pintunya sehingga pemimpin Kuba itu dapat melihat tabernakel setiap saat. Tak lama kemudian Castro menyatakan di media, “Umat Katolik Kuba telah memberikan dukungan paling teguh untuk perjuangan kebebasan”.

Dan mengenai hieraki gerejawi, ia menegaskan, “Saya katakan kepada Anda bahwa ini adalah revolusi sosialis sui generis, dan Anda hanya perlu melihat detail berikut: Ini adalah revolusi pertama dari jenisnya di seluruh dunia yang dimulai dengan dukungan penuh dari Gereja”. Pada Meret 1959, Uskup Perez meyakinkan Fidel Castro untuk mengubah hukuman mati para terdakwa, termasuk kepada loyalis Batista dalam Pengadilan Revolusioner (Tribunales Revolucionarios) menjadi hukuman penjara, meski mungkin sebagian besar proses eksekusi tetap dilakukan. Meningkatnya pengaruh sayap komunis Gerakan 26 Juli membut Perez menjadi penentang utama, terutama setelah Kongres Katolik Nasional besar-besaran pada musim gugur bulan November 1959. Di mana sedikitnya satu juta orang kumpul dan melakukan pawai di Havana untuk menunjukkan kekuatan Katolik Kuba dan menyatakan keprihatinan tentang pergeseran Kuba pro-Uni Soviet serta menentang penangkapan salah satu pemimpin revolusi, Huber Matos pada 19 Oktober 1959, atas perintah Castro setelah mengundurkan diri dan menulis surat yang memperingatkan adanya peningkatan pengaruh komunis di dalam pemerintahan revolusioner Kuba. Tindakan ini sukses menunda ambisi Castro untuk mengubah Kuba menjadi negara komunis di awal revolusi, 1959, meskipun sejumlah kebijakannya anti-kapitalis terus berlangsung, termasuk nasionalisasi perusahan asing milik AS, bahkan Undang-undang Reformasi Agraria tahun 1959, yang memengaruhi tanah milik gereja (semua properti dan sekolah milik gereja disita dan dinasionalisasi), dengan semboyan “Revolusi dulu, pemilihan umum belakangan”. Banyak bangunan biara dan organisasi Katolik diubah fungsinya menjadi kamp penahanan bagi mereka yang dicap membahayakan negara, umat Katolik dilarang menjadi anggota Partai Komunis Kuba.

Castro resmi menjadikan Kuba negara komunis pada Desember 1961 setelah kebijakan nasionalisasinya (pengambilalihan aset) terhadap industri dan tanah yang dikuasai perusahaan AS, memicu permusuhan AS, dengan memotong kuota impor gula Kuba dan memberlakukan embargo ekonomi, yang mendorong Kuba bergantung secara ekonomi dan militer pada Uni Soviet selama Perang Dingin. Jadi, Castro menyadari permusuhan dengan negara adidaya tetangganya sangat berbahaya, terutama terjadi invasi Teluk Babi—sebuah serangan militer ke Kuba yang dilatih dan didanai oleh CIA, dan untuk mencegah agresi lanjutan serta memastikan keamanan negaranya, Castro secara resmi memproklamasikan Kuba sebagai negara sosialis dan bersekutu dengan Blok Timur.

Meskipun baru umumkan tahun 1961, ideologi sosialis sebenarnya sudah tertanam dalam diri Castro sejak ia menjadi aktivis dan pemimpin revolusi. Hanya saja, ia menyembunyikan padangan komunisnya di awal revolusi untuk menghindar dari perpecahan dalam negeri dan intervensi langsung dari AS. Ia gunakan cara itu untuk mendapat dukungan luas rakyat Kuba, kaum nasionalis, termasuk faksi-faksi partai peninggalan Fulgencio Batista, hingga dunia internasional, dan tanpa campur tangan langsung dari AS. Sebab, cikal bakal terbentuknya Gerakan 26 Juli (Movimiento 26 de Julio/M-26-7) yang dipimpin Castro merupakan aliansi dari berbagai kelompok, termasuk kelas menengah, kaum liberal, dan nasionalis yang tidak menginginkan sistem komunis, melainkan restorasi demokrasi dan reformasi agraria. Sejak itu, tahun 1961 merupakan momen paling kritis bagi umat Katolik Kuba, yang berada dalam pengawasan ketat setelah kegagalan Invasi Teluk Babi, selain penahanan preventif (penahan individu orang atas dasar curiga, bukan bukti) yang diperintahkan pemerintah, dan hierarki Gereja Katolik dilecehkan, termasuk beberapa perwakilannya dipenjara.

Pada September 1960, Castro memerintahkan penutupan semua program radio dan televisi Katolik di Kuba. Dan tanggal 20 September 1961, selama prosesi Santa Pelindung Kuba, Bunda Maria dari El Cobre (Nuestra Senora de la Caridad del Cobre) atau Bunda Amal Kasih pelindung utama negara Kuba yang resmi ditetapkan Paus Benediktus XV pada 10 Mei 1916, Milisi Nasional Revolusioner menyerang demonstran dengan tongkat dan tembakan, menyebabkan kematian pemuda Katolik Arnoldo Socorro. Selanjutnya, pada 19 September 1961, Castro mengumumkan di televisi bahwa demonstrasi keagaman tidak lagi diizinkan di Kuba (wikepedia).

Berkenan dengan fakta ini, Uskup Perez mulai bersikap antagonistik terhadap Castro dan sistem komunis Kuba. Tanpa ragu, Uskup Perez menerbitkan selusin surat pastoral yang dibacakan di semua paroki di keuskupan yang dipimpinnya. Beberapa dari semua surat pastoralnya yang terkenal, seperti Roma atau Moskow, atau Bukan Paria atau Pengkhianat, di mana ia mengkritik serangan terhadap kebebasan pendidikan, nasionalisasi tanpa kopensasi, termasuk aset-aset milik Gereja Katolik, dan reformasi agraria yang merampas tanah banyak pemilik lahan kecil. Dari surat pastoral Uskup Perez tersebut secara pribadi analisis oleh Presiden AS Dwight Eisenhower dan John F. Kennedy dalam pertemuan terpisah dengan dinas intelejen mereka (AS), seperti yang dirangkum oleh peneliti Universitas Georgetown, Ignacio Uria Rodgriguez, dalam bukunya Church and Revolution in Cuba (Gereja dan Revolusi Kuba) atau dalam bahasa Spanyol Iglesia y Revolucion En Cuba, Enrique Perez Serantes (1883-1968) el Obispo que salvo a Fidel Castro, biografi pertama tentang prelates timur tersebut, yang memenangkan Penghargaan Sejarah Internasional Jovellanos III pada tahun 2011 (Nueva Revista, 14 November 2011).

Setelah Castro mengarahkan Kuba ke jalur sosialis-ateis, Uskup Serantez berbalik haluan menjadi kritikus vokal atas pergeseran Castro ke arah komunisme dan Soviet. Pada akhirnya, tindakan Uskup Perez menyelamatkan Castro dari eksekusi mati oleh algojo Batista mengajarkan kita bahwa sejarah sering kali bergantung pada secercah belas kasih di tengah perang dan brutalitas. Pembelaan yang dilakukan Uskup bukan membela tindakan kejahatan dan ideologi komunis yang dianutnya, tetapi menyelamatakan seorang manusia (kemanusiaan Fidel Castro), yang kemudian hari—secara tidak terduga mengubah arah sejarah Kuba dan dunia di abad ke-20. Uskup Perez memberikan pelajaran moral dan kemanusiaan yang mendalam, dengan menegaskan prinsip moral bahwa nyawa manusia adalah hak yang tidak boleh dirampas sewenang-wenang, bahkan terhadap pelaku makar atau gerilyawan sekalipun—setelah menyatakan menyerah, tidak berdaya, atau sedang tidak berperang melawan musuh wajib dihormati kemanusiaannya.

Tindakan Uskup Unrique menarik Castro dari jurang maut pada tahun 1953 adalah bukti memisahkan pembelaan terhadap individu (kemanusiaan) daripada mendukung ideologi dan tindakannya. Uskup yang tanpa ragu mengeluarkan surat pastoral tahun 1960 yang mengecam komunisme demi melindungi umat dan nilai-nilai moral gereja itu menujukkan bahwa kasih dan perlindungan kemanusiaan berlaku untuk siapa saja, tanpa memandang pandangan politik atau tindakan mereka. Uskup melakukan demonstrasi nyata tentang pemisahan antara nilai kemanusiaan dan ideologi, mengutamakan nilai hakiki kehidupan manusia, dengan membela hak hidup seseorang tidak sama dengan menyetujui perbuatan jahat dan ajarannya.

Ini mengajarkan batas yang jelas: “mengasihi manusia tidak sama dengan membenarkan permbuatannya”. Peristiwa ini menujukkan nilai moral tertinggi adalah memberikan perlindungan kepada setiap jiwa, meski keputusan tersebut mengandung risiko besar bagi masa depan. Bahkan berupa pengkhianatan dan perlawanan, seperti Castro diampuni hidupnya kemudian memimpin revolusi sukses, dan menjadikan Kuba negara komunis-ateis, lalu melarang kebebasan beragama yang menjadi permenungan abadi bahwa kebaikan kemanusiaan sering kali memiliki konsekuensi yang tidak terduga dan berada di luar kendali manusia. Namun, pasca-runtuhnya Uni Soviet (1991), Castro mengubah status Kuba dari negara ateis menjadi sekuler, dan setahun kemudian mengamandemen konstitusi (1992) yang menghendaki kebebasan beragama kembali terjadi di Kuba.

Pada November 1996, Castro pergi ke Vatikan bertemu Paus Yohanes Paulus II. Hasilnya, Paus asal Polandia itu berkunjung ke Kuba pada 21-25 Januari 1998, di sana—Paus mengkritik kemiskinan dan pelanggaran hak asasi manusia di bawah rezim Castro. Setelah Castro menerima kunjungan Paus yang dinilai oleh banyak orang dan rakyat Kuba sebagai awal perubahan tersebut, pengganti Paus Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI mengunjungi Kuba setelah negara Karibia itu dipimpin oleh adiknya Fidel Castro, Raul Castro, sejak tahun 2008. Pada 10 Mei 2015, Presiden Raul Castro pergi ke Vatikan bertemu Paus Fransiskus, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Paus yang telah menjadi mediator untuk normalisasi hubungan diplomatik antara Kuba dan Amerika Serikat yang terputus selama 54 tahun, 6 bulan, 17 hari sejak tanggal 3 Januari 1961 yang mengawali pembukaan kembali kedutaan besar masing-masing pada 20 Juli 2015. Dan Paus Fransiskus mengunjungi Kuba pada tanggal 19-22 september 2015 sebelum melanjutkan perjalanan apostolik tersebut ke Amerika Serikat tanggal 22-27 September 2015.

Tidak hanya kebebasan beragama, tetapi menjelang dan selama kunjungan para pemimpin Gereja Katolik dunia ini membawa banyak perubahan di Kuba, termasuk pembebasan para tahanan, sebagian besar narapidana politik mendapat pengampunan, antara lan, lawatan apostolik Paus Yohanes Paulus II (1998), dibebaskan sekitar 300 tahanan, termasuk sekitar 101 tahanan politik, Paus Benediktus XVI (2012), mengampuni hampir 3.000 tahanan sebelum kunjungannya, sebagian besar adalah tahanan biasa, lansia, atau mereka yang sakit. Dan, Paus Fransiskus (2015), mengumumkan pembebasan massal terhadap 3.500 narapidana, yang menurut laporan kelompok HAM, sebagian besar adalah narapidana politik.

Kini, semilir angin kebebebasan beragama itu berembus setelah Kuba memperbarui diri dari negara ateis menjadi negara sekuler yang diperkuat dengan perubahan konstitusi tahun 1992. Yang memungkinkan berbagai kegiatan keagaman tumbuh dan berkembang lebih terbuka di negara tersebut, meski Kuba masih menghadapi tantangan hak asasi manusia yang berat, termasuk terlibat konfrontasi dengan Amerika Serikat yang berdampak pada embargo ekonomi yang berkepanjangan selama 60-an tahun, termasuk sekarang Kuba dalam bayang-bayang invasi Amerika Serikat. Jadi, Uskup Enrique Perez Serantez menyelamatkan Fidel Castro dari pasukan Fulgencio Batista pada tahun 1953 murni atas dasar kemanusiaan, bukan mendukung ideologi komunis.

Walaupun akhirnya Castro mengecewakan sang uskup dengan membawa Kuba menjadi negara komunis-ateis, yang berujung pada penindasan terhadap Gereja Katolik dan menjadikan Uskup Serantes sebagai salah satu penentangnya. Sering berjalannya waktu, terjadi perubahan konstitusi Kuba (1991) pasca-bubarnya Uni Soviet 1991 secara resmi Castro menetapkan negara tersebut sebagai sekuler, menghapus batasan ekstrim atas kebebasan beragama. Terbukti sejarah kini mencatat Kuba telah bertranformasi menjadi negara sekuler yang lebih terbuka dan menjamin kebebasan beragama, yang diperkut juga oleh kunjungan Paus Yohanes Paulus II (1998), Paus Benediktus XVI (2012) , dan Paus Fransiskus (2015) yang memecah kebuntuan, yang diikuti dialog damai membuka jalan bagi umat beragama untuk menjalankan ibadah dengan lebih leluasa.

Akhirnya, Uskup Enrique Perez Serantes dimaknai sebagai “Mercusuar Kemanusiaan” dalam Revolusi Kuba karena ia menjadi suara profetis sekaligus penengah moral yang krusial. Uskup Perez tidak memihak pada tokoh politik atau ideologi tertentu, tetapi ia mampu berlayar di atas semua kepetingan menjadi tiang api moral dan kemanusiaan yang menerangi kegelapan politik kediktatoran Batista dan pemerierintahan revolusioner di Kuba kala itu. Pengaruh besar sang Uskup tercatat pada tahun 1953 menyelamatkan nyawa Fidel Castro dan adiknya, Raul Castro yang berhaluan Marxis-Leninis dari eksekusi mati oleh pasukan diktator Fulgencio Batista pasca-serang nekat gagal di Barak Moncada, Santiago de Cuba, pada 26 Juli 1953. Meskipun ia menentang kejahatan kejam rezim Batista, ia juga tidak segan mengkritik tindakan deviasif dan sewenang-wenang yang melanggar hak asasi manusia dalam pengadilan revolusioner awal yang dipimpin Castro—termasuk penyimpangannya membawa Kuba menuju paham komunisme—melalui surat-surat pastoralnya yang terkenal. Liberte.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

*) Penulis adalah Advokat, Direktur Eksekutif POHR, serta pegiat isu-isu sosial dan politik Amerika Latin.

LAINNYA
error: Content is protected !!