
NABIRE – Dewan Perwakilan Rakyat Papua Tengah (DPRPT) mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Puncak untuk segera membangun gudang cadangan pangan lokal dan memberikan pelatihan pengawetan bahan pokok kepada masyarakat. Desakan ini disampaikan oleh Wakil Ketua IV DPRPT, John Nasion Robbi (NR) Gobai, melalui siaran pers pada Jumat (28/8/2026), sebagai respons terhadap ancaman krisis pangan akibat fenomena hujan es yang kerap melanda wilayah pegunungan tersebut.
John NR Gobai, yang menjabat melalui jalur pengangkatan (kursi khusus Otonomi Khusus) periode 2024–2029, menyoroti bahwa hujan es di Kabupaten Puncak telah menjadi bencana berulang yang terjadi setiap periode Agustus hingga Oktober. Fenomena cuaca ekstrem ini berpotensi merusak tanaman pangan masyarakat, yang pada gilirannya mengurangi ketersediaan bahan makanan dan meningkatkan risiko kelaparan.
Solusi Jangka Panjang: Gudang Pangan dan Pengawetan Ubi-Keladi
Untuk memitigasi dampak bencana tersebut, DPRPT mengajukan dua rekomendasi strategis. Pertama, pembangunan Gudang Pangan Lokal di wilayah-wilayah yang rentan terhadap bencana cuaca. Gudang ini berfungsi sebagai penyangga stok makanan ketika masa panen gagal atau tanaman rusak akibat hailstorm (hujan es).
Kedua, penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan pengolahan dan pengawetan komoditas lokal, khususnya ubi dan keladi. John menilai bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal ini sangat penting karena ubi dan keladi merupakan sumber karbohidrat utama masyarakat pegunungan.
“Pemerintah daerah diminta memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai pengolahan dan pengawetan pangan lokal seperti ubi dan keladi, sehingga bahan makanan dapat disimpan lebih lama dan digunakan sebagai cadangan ketika terjadi kerusakan tanaman,” jelas John.
Strategi Ketahanan Pangan Berbasis Kearifan Lokal
Menurut John, pendekatan ini tidak hanya bersifat reaktif terhadap bencana, tetapi juga membangun ketahanan pangan yang berkelanjutan. Dengan kemampuan mengawetkan hasil panen saat kondisi cuaca normal, masyarakat tidak akan sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar wilayah saat bencana datang.
“Pendekatan tersebut penting karena masyarakat di wilayah pegunungan memiliki sumber pangan lokal yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari strategi menghadapi bencana dan perubahan kondisi cuaca,” tambahnya.
Selain isu hujan es, John juga mengingatkan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta perubahan iklim lainnya turut mempengaruhi stabilitas pangan di Papua Tengah. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, legislatif, dan masyarakat adat dalam mengelola sumber daya pangan lokal menjadi kunci utama dalam menjaga kesejahteraan warga di daerah terpencil.
DPR Papua Tengah berkomitmen untuk terus mengawal realisasi pembangunan infrastruktur pangan dan program pelatihan ini agar masyarakat Kabupaten Puncak tidak lagi terjebak dalam siklus kerentanan pangan setiap musim hujan es tiba.