MENU Sabtu, 29 Agu 2026

Gubernur Meki Nawipa: Uang Bisa Dicari, Tapi Fondasi Pendidikan Anak Sulit Dibangun

waktu baca 3 menit
Jumat, 28 Agu 2026 08:36 123 admin

NABIRE – Gubernur Papua Tengah, Meki Fritz Nawipa, menekankan urgensi pembangunan fondasi pendidikan yang kokoh bagi generasi muda Papua. Pesan ini disampaikan saat menghadiri acara Open House Sekolah Papua Harapan (SPH) Nabire di Jalan Marthadinata, Kelurahan Nabarua, Distrik Nabire, pada Jumat (28/8/2026).

Dalam sambutannya, Meki menyoroti bahwa tantangan terbesar dalam pembangunan pendidikan bukanlah sekadar ketersediaan anggaran, melainkan konsistensi dalam membentuk karakter dan standar kemampuan siswa sejak dini. Ia menyebut kebutuhan pembangunan fasilitas SPH Nabire diperkirakan mencapai Rp56 miliar yang akan dilaksanakan secara bertahap.

“Uang itu bisa kita cari, tetapi meletakkan fondasi pendidikan yang kuat untuk anak-anak kecil itu susah. Kita harus memastikan mereka memiliki kemampuan dan standar yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan,” ujar Meki.

Meki membuka pidatonya dengan berbagi pengalaman pribadi yang menjadi inspirasi lahirnya gagasan dukungan terhadap Sekolah Papua Harapan. Ia menceritakan masa mudanya saat bercita-cita menjadi penerbang. Sebelum mengikuti evaluasi penerbangan di Papua Nugini, ia bekerja keras mengangkat barang di gudang dan menjalani tugas maintenance.

Namun, cita-cita tersebut kandas setelah ia dinyatakan tidak memenuhi standar psikotes dari Mission Aviation Fellowship (MAF). Meski kecewa, Meki tetap optimis. Pengalaman pahit manis inilah yang membuatnya sadar betapa pentingnya pendidikan formal yang terstruktur dan berkualitas untuk membuka peluang hidup yang lebih luas bagi anak-anak Papua, termasuk mereka dari wilayah terpencil seperti Bokondini, Silimo, Nalca, dan Paniai.

Selain membahas infrastruktur, Meki menyampaikan pesan mendalam kepada para orang tua siswa. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh fasilitas sekolah, tetapi juga oleh kehadiran emosional dan fisik orang tua dalam setiap fase pertumbuhan anak.

Meki mengakui pernah melakukan kesalahan prioritas di masa lalu. Saat masih menjabat sebagai Bupati Puncak, ia memilih menghadiri penanganan kasus perampasan senjata di Beoga ketimbang hadir di wisuda anaknya yang transitioning dari SD ke SMP.

“Saya rasa, aduh, saya jadi bupati, punya kewenangan besar, tapi tidak ada arti dalam hidupku karena anak saya mengharapkan saya hadir pada saat itu. Setelah jabatan selesai, saya tahu anak saya merasa terpukul karena ayah dan ibu teman-temannya hadir, sedangkan saya tidak,” kenang Meki dengan nada penyesalan.

Sejak peristiwa itu, Meki berjanji untuk selalu hadir dalam momen-momen penting pendidikan anaknya, mulai dari SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Ia menegaskan bahwa kesuksesan karier atau pelayanan sosial di luar rumah akan kehilangan makna jika orang tua gagal mendampingi anak di saat mereka paling membutuhkan.

“Kita bisa terlihat hebat di kantor atau di gereja. Tapi kalau anak kita tidak bisa dipastikan berada di tempat yang bagus dan kita tidak hadir saat mereka butuh, artinya kita tidak siapa-siapa dalam hidup,” tegasnya.

Gubernur Meki mengapresiasi peran para misionaris dan Pemerintah Kabupaten Nabire yang telah menjaga keberlangsungan SPH. Ia meminta Pemkab Nabire dan pihak terkait untuk terus mendukung pengembangan sarana dan prasarana sekolah agar proses belajar mengajar dapat berjalan optimal.

Dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah daerah dan provinsi, serta keterlibatan aktif orang tua, Sekolah Papua Harapan Nabire diharapkan tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga pusat pembentukan generasi Papua yang optimis, berkarakter, dan siap bersaing di masa depan.


 

Terdaftar di Google News

  • Pemprov Papua Tengah Harapkan Layanan Hukum Jangkau Kampung

STATISTIK PEMBACA

LAINNYA