MENU Sabtu, 03 Okt 2026

Be Human Being: Ajakan Lintas Denomenasi Gereja Dunia Dalam Hidup Bersama AI

waktu baca 6 menit
Sabtu, 3 Okt 2026 01:25 150 Felix Degei

Oleh Felix Degei, S. Pd., M. Ed., Gr.

Pendahuluan

Kehidupan manusia di abad 21 ini sudah tidak terlepas dari penggunaan kecerdasan buatan (artificial interlliegence) dalam mempermudah sekaligus mempercepat setiap pekerjaannya. Dengan adanya AI manusia sudah mulai bisa menghemat waktu (save time), tenaga (save energy), biaya (save money) bahkan nyawa (save life). Meskipun AI memiliki banyak keunggulan, belakangan ini ada beberapa pihak yang berpendapat agar setiap manusia harus berada pada kodratnya sebagai makhluk yang paling mulia. Salah satu pihak yang memberikan pandangan mengenai pentingnya menjunjung tinggi nilai menusia adalah lintas denomenasi gereja di Amerika Serikat. Dalam upaya tersebut tepat 15 September 2026 lalu di Washington DC telah diadakan sebuah konferensi bertajuk ‘The Pro-Human Assembly’ yang dihadiri oleh para pimpinan gereja dunia seperti Katolik Roma, The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints (LDS/Mormon), Protestan Injili dan Ortodoks. Gerakan ekumenis lintas denomenasi tersebut menyuarakan agar kita harus tetap jadi manusia seutuhnya (be human being). Hasil dari konferensi tersebut telah menghasilkan tiga manifesto ajakan umat bergama dalam bagaimana bijak menggunakan AI.

Tiga Ajakan Gereja Katolik dalam Menggunakan AI

Berikut ketiga ajakan ekumenis lintas denomenasi gereja di Amerika Serikat dalam konferensi di Washington (15/09/2026), antara lain:

Pertama: Jangan Biarkan AI Ganti Relasi Manusia

Gereja dunia kuatir kehadiran AI membuat manusia sudah tidak saling membutuhkan lagi. Fakta saat ini AI menjadi pasangan cerita alias pacar ataupun teman curhat. Padahal sesungguhnya AI tidak berperasaan juga hati nurani. Motivasi dasar manusia berelasi dengan sesama adalah agar memperoleh simpati bahkan empati dari sesama di sekitar. Hal demikian, lambat laun tentu akan membuat manusia sudah tidak mau bertengkar, memaafkan dan mencintai manusia asli yang tidak sempurna. Dengan pertimbangkan itulah gereja dunia mau agar semua makhluk ciptaan Tuhan tetap menjaga relasi yang baik dengan sesama. Karena kita hidup tidak sebatang kara laksana pulau di tengah samudera yang luas (no man is as an island). Ingat kata Aristoteles bahwa manusia adalah makhluk ‘Zoon Politicon’ pribadi yang selalu ingin bergaul dengan sesama di sekitar. Oleh karena itu dalam konferensi tersebut Mgr. Salvatore Cordileone, Uskup Agung San Fransico berpesan dalam kutipan langsung:
“God created us for communion. I think we need to keep them away from this in their formative years, so they develop the capacity to form human relationships.”
“Tuhan menciptakan kita untuk persekutuan. Saya pikir kita harus menjauhkan anak-anak dari AI di tahun-tahun masa pembentukan karakter mereka supaya mereka mengembangkan kemampuan untuk membentuk relasi manusia.”
Pernyataan tersebut sejalan dengan ensilik pertama dari Paus Leo XIV (25 April 2026) tentang Kemanusiaan yang Agung (Magnifica Humanitas). Dokumen tersebut dibuat bukan menentang keberadaan AI. Namun ia hanyalah panduan moral agar manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang mulia tetap berada pada kodratnya.

Kedua: Jangan Cari Jawaban Instan Terus

Forum gereja dunia mengkuatirkan jika keberadaan AI telah sedang mematikan rasa ingin tahu (curiosity) sesungguhnya yang dimiliki oleh manusia. Dampak yang dipikirkan adalah manusia akan hilang untuk pemrosesan informasi atau pergumulan kerja keras untuk memperoleh jawaban tertentu. Sehingga akibatnya orang sudah tidak ke perpustakaan, diskusi dengan teman, senior, orang tua, guru atau mereka yang pakar dalam bidangnya. Otak manusia sudah tidak dipakai lagi untuk berpikir kritis hingga parahnya orang sudah mulai tidak saling membutuhkan lagi.
Slogan yang digunakan dalam konferensi tersebut adalah ‘Friction is Formation.’ Hal ini berarti jika segala sesuatu dipermudah oleh AI, maka tidak ada gesekan yang sesungguhnya membentuk karakter, kesabaran, ketekunan dan kerja keras. Fenomena seperti ini sesungguhnya tidak baik bagi generasi yang baru sedang bertumbuh dan berkembang. Mereka justru butuh iklim yang kompetitif dalam mencari dan menemukan setiap dalil permasalahan. Karena sesungguhnya dalam belajar hal yang terpenting adalah prosesnya bukan hasil semata.
Esensi tentang pentingnya sebuah proses dalam belajar sudah digaungkan oleh beberapa ahli pendidikan dunia. Misalnya Bapak Pendidikan Modern John Dewey dari Amerika (1859-1952) menekankan belajar itu bukan hafal jawaban yang telah ada namun sesunggunya harus terjadi dengan pengalam dan proses memecahkan masalah (learning by doing). Sementara Jean Piaget (1896-1980) melalui teori belajar Konstruktivisme menjelaskan pengetahuan justru terjadi dalam pikiran anak, selama mereka terlibat langsung dalamnya karena terjadi sebagai akibat interaksi secara aktif bukan hanya melalui salin jawaban yang ada. Hal senada disampaikan juga oleh Howard L. Kingsley (1913-1988) bahwa belajar adalah suatu proses bukan produk jadi yang telah ada.

Ketiga: AI Tidak Boleh Punya Hati Nurani Sendiri

Sikap tegas dari gereja dunia adalah hati nurani bukan sekedar bisa bedakan benar dan atau salah, tetapi berkaitan dengan kemampuan untuk bertanggung jawab atas setiap keputusan. Berbagai platform AI terlihat bekerja dengan cepat dan cermat hanya karena mengacu pada data yang sudah dialgoritma dengan input, proses dan output. Dengan demikian bagian yang kurang dari AI saat ini adalah kemampuan bertanggung jawab atas setiap informasi yang dihasilkan.
Tiga alasan prinsipil memperkuat jika hingga kapanpun AI tidak boleh dan tidak akan perna miliki nurani karena: pertama, ia hanyalah media atau alat yang tidak bisa merasakan rasa sakit, lapar, haus, ingin dicintai dan mencintai serta reflesi perasaan lainnya; kedua, ia tidak memiliki sikap yang senantiasa berubah sesuai situasi dan kondisi yang ada dan sedang berlangsung artinya sangat mekanik alias kaku; dan ketiga, ia juga abstrak dari eksistensinya sehingga susah untuk menyalahkan atau protes atas setiap karya yang dihasilkan.
Dengan pertimbangan ketiga alasan di atas tentu hingga kapanpun AI tidak akan perna memiliki nurani laksana manusia dengan ragam refleksi rasa (reflection of feeling) dan makna (reflection of meaning). Oleh sebab itu, posisi gereja dunia tetap pada ajakan bahwa manusia harus berada pada kodratnya sebagai mahkluk yang paling mulia (be human being).

Kesimpulan

Gereja dunia sungguh mengakui keangungan Tuhan. Apapun alasannya, manusia tetap berada pada posisi yang tak tertandingi dengan ragam ciptan Tuhan lainnya. Hanya manusia Tuhan lengkapi dengan otak untuk berpikir dan hati untuk merasakan. Sehingga inti ajakannya adalah manusia jangan perna bergantung hanya pada produk hasil kerja atau rakitan manusia. Namun manusia harus tetap berada pada kodratnya bahwa kita adalah mahkluk yang bisa olah pikir, olah rasa hingga olah raga. Marilah kita tetap mau menjadi manusia yang senantiasa aktif, kreatif dan inovatif serta berbelarasa. Sementara dalam hal belajar menjadi mahkluk yang mengutamakan proses dari pada hanya hasil semata.

*Penulis adalah pegiat pendidikan khusus Orang Asli (Indigenous Education) yang tinggal di Nabire Papua Tengah. 

STATISTIK PEMBACA

LAINNYA
error: Content is protected !!