MENU Rabu, 14 Okt 2026

Wagub Papua Tengah Desak Hentikan Perang Suku dan Miras di Pembukaan Konferensi GKII Wilayah II

waktu baca 3 menit
Rabu, 14 Okt 2026 02:09 39 admin

TIMIKA – Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah II Papua Tengah menggelar Opening Ceremony Konferensi Sinode ke-IV. mengangkat tema “Bertumbuh Bersama” berdasarkan Efesus 4:15–16. Tema ini menekankan pentingnya pertumbuhan iman, kedewasaan rohani, serta kerja sama seluruh unsur gereja dalam membangun pelayanan yang berlandaskan kasih dan kebenaran. Selasa (13/10/2026). berlokasi di Graha Sinode, Jalan Mayon, Distrik Kuala Kencana, Kabupaten Mimika.

Berlangsung selama empat hari ini menjadi momentum strategis untuk mengevaluasi pelayanan, memperkuat persatuan antarklasis, dan merumuskan arah pelayanan gereja ke depan.

Hadir mewakili Gubernur Papua Tengah, Wakil Gubernur Deinas Geley memberikan sambutan sekaligus meresmikan konferensi pemilihan sinode tersebut.

 

Dalam sambutannya, Wagub Deinas Geley menyampaikan pesan tegas terkait urgensi menjaga persatuan, baik di internal gereja maupun di tengah masyarakat adat. Menyoroti sejarah perpecahan di masa lalu, ia mengimbau agar jemaat tidak kembali memecah belah organisasi gereja.

“Jangan sampai gereja ini dipecahkan untuk ketiga kalinya. Sudah cukup terpecah menjadi Kingmi Papua dan GKI Indonesia, hanya dua itu saja. Gereja itu bukan sekadar nama organisasi, tetapi manusianya. Jika manusia saling pecah belah dan baku ribut, agama ini bisa bubar dengan sendirinya. Gereja-gereja di Papua Tengah harus dipertahankan agar umat dapat terus beribadah dan percaya kepada Tuhan Yesus,” tegas Deinas.

Tidak hanya soal internal gereja, kesempatan itu Wagub juga menyoroti masalah moral yang mengancam generasi muda dan kesehatan masyarakat. Ia meminta kader gereja, khususnya pemuda, untuk menjauhi minuman keras dan pergaulan bebas.

“Pemuda adalah tulang punggung gereja, mereka harus bangun dan bersatu untuk membesarkan gereja ini. Minum-minuman mabuk harus berhenti, terutama bagi kader-kader gereja. Selain itu, penyebaran HIV dan pergaulan bebas juga harus dihentikan. Jika ini terus kita pertahankan, 50 tahun ke depan masyarakat Papua akan punah habis,” peringatnya.

Pesan perdamaian yang tak kalah keras juga ditujukan secara khusus kepada masyarakat Suku Dani, Lani, dan Nduga yang berdomisili di Kabupaten Mimika. Deinas meminta agar konflik horizontal atau perang antarsuku dihentikan secara total.

“Kalian boleh tinggal di sini, di Tanah Timika, tapi tidak boleh perang lagi. Manusia lahir ini hanya satu-satu saja, kecuali kembar. Kita tidak seperti ikan atau ayam yang bertelur banyak. Oleh sebab itu, mulai hari ini dengan acara konferensi ini, semua panah-panah perang kita harus diikat dan tidak boleh ada lagi perang,” pintanya.

Sebagai penutup, Wagub memberikan peringatan historis dan demografis agar masyarakat Papua tidak mengulangi kesalahan yang terjadi di wilayah lain di dunia. Ia mengambil contoh nasib populasi masyarakat asli di beberapa benua yang habis akibat alkohol dan penyakit.

“Saya ambil contoh di Amerika Latin dan Australia. Dulu populasi kulit hitam (asli) banyak, tetapi gara-gara minuman beralkohol dan penyakit mereka musnah habis, lalu digantikan oleh kulit putih. Apakah hal yang sama suatu saat akan terjadi di Papua? Itu pertanyaan besar yang saya berikan kepada kita semua,” tutupnya.

Acara pembukaan dihadiri oleh ribuan pengurus klasis, pendeta, dan hamba Tuhan GKII se-Wilayah II Papua Tengah.

STATISTIK PEMBACA




  • Pemprov Papua Tengah Harapkan Layanan Hukum Jangkau Kampung
LAINNYA
error: Content is protected !!