MENU Jumat, 22 Mei 2026

Menyongsong 118 Tahun Kebangkitan Nasional, KWI Serukan “Bangkit Bersama Dalam Pengharapan” dan Desak Dialog Damai di Papua

waktu baca 3 menit
Jumat, 22 Mei 2026 16:01 37 admin

JAKARTA – Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) merilis Seruan Pastoral bertajuk “Bangkit Bersama Dalam Pengharapan” pada peringatan ke-118 Hari Kebangkitan Nasional, Rabu (20/5/2026). Dalam seruan tersebut, para Uskup Katolik di Indonesia menyerukan pentingnya solidaritas nasional, penegakan demokrasi Pancasila, serta pendekatan manusiawi dan dialogis untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan di Tanah Papua.

Seruan ini disampaikan oleh Presidium KWI yang diketuai oleh Mgr. Antonius Bunyamin, S.C.J., bersama para wakil ketua dan anggota presidium lainnya. Dokumen ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap tantangan multidimensi yang dihadapi bangsa, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, krisis ekologi, hingga retaknya persaudaraan kebangsaan.

Papua: Butuh Pendekatan Manusiawi, Bukan Sekadar Keamanan

Salah satu poin krusial dalam seruan pastoral ini adalah sorotan terhadap situasi di Papua. KWI menegaskan bahwa masalah di Papua bukan sekadar persoalan pembangunan infrastruktur atau keamanan, melainkan isu kemanusiaan yang melibatkan luka batin lintas generasi akibat kekerasan dan kurangnya rasa saling percaya.

“Pendekatan keamanan bukanlah jalan cepat dan tepat dalam penyelesaian masalah di Papua. Karena itu diperlukan pendekatan yang semakin manusiawi, dialogis, partisipatif, dan berakar pada penghormatan terhadap sejarah, budaya, serta hak-hak dasar masyarakat setempat,” bunyi seruan tersebut.

KWI mendesak pemerintah untuk mengedepankan dialog substantif dan rekonsiliasi tulus guna memulihkan kepercayaan dan menciptakan kesejahteraan yang inklusif bagi masyarakat Papua.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, KWI menyuarakan kekhawatiran atas menyempitnya ruang dialog publik dan perubahan perbedaan pendapat menjadi permusuhan. Para Uskup mengingatkan bahwa kritik seharusnya dilihat sebagai bagian dari kecintaan terhadap bangsa, bukan ancaman.

Seruan ini secara tegas menolak kecenderungan otoritarianisme melalui legalisme otokratis. KWI mengajak seluruh elemen bangsa untuk merevitalisasi demokrasi Pancasila dengan menjunjung tinggi supremasi hukum yang berkeadilan tanpa pandang bulu.

“Jangan sampai ada orang yang tidak bersalah malah didakwa dan dijatuhi hukuman. Dan orang yang seharusnya mempertanggungjawabkan perbuatan salahnya malah dinyatakan tidak bersalah,” tegas KWI.

Keadilan Ekonomi dan Pertobatan Ekologis

Menyinggung aspek ekonomi, KWI mencatat bahwa angka pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat akar rumput. Ketimpangan sosial, pengangguran, dan kenaikan biaya hidup masih menjadi beban berat. Gereja menekankan bahwa politik dan ekonomi harus menjadi sarana pelayanan demi kesejahteraan umum, bukan alat dominasi kelompok tertentu.

Selain itu, KWI juga menyoroti krisis ekologi. Mengutip ensiklik Laudato Si’ dari almarhum Paus Fransiskus, KWI mengingatkan bahwa bumi adalah rumah bersama yang harus dirawat. KWI mengkritik proyek-proyek pembangunan yang eksploitatif dan mengabaikan konsultasi publik, seperti kasus panas bumi di Flores dan food estate di Papua, yang dinilai dapat menjadi bumerang bagi keberlanjutan lingkungan dan hak-hak masyarakat adat.

Untuk menjawab tantangan zaman, KWI merumuskan lima langkah strategis bagi bangsa Indonesia:
1. Merefleksikan Makna Kebangkitan: Membangun masa depan dengan keberanian menghadapi realitas pahit dan evaluasi kebijakan yang jujur.
2. Solidaritas bagi Yang Terpinggirkan: Memastikan kebijakan nasional berpihak pada kaum miskin, rentan, dan masyarakat adat.
3. Revitalisasi Demokrasi Pancasila: Menolak otoritarianisme dan memperkuat budaya dialog serta pendidikan politik yang etis.
4. Dialog dan Rekonsiliasi: Khususnya di wilayah konflik seperti Papua, dengan menghargai kearifan lokal.
5. Memperkuat Fondasi Spiritual: Melawan intoleransi dan dehumanisasi melalui pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila dan gotong royong.

Semangat Sinodal dan Gotong Royong

Menutup seruannya, KWI mengenang kunjungan almarhum Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024 yang memuji semangat Bhinneka Tunggal Ika dan gotong royong sebagai fondasi kuat bangsa. KWI juga menyinggung pesan Paus Leo XIV (terpilih Mei 2025) tentang damai sejahtera.

“Dengan semangat sinodal ‘berjalan bersama’, mari kita menjaga Indonesia sebagai rumah kita bersama yang adil, beradab, damai, dan bermartabat,” pungkas seruan tersebut.

Seruan pastoral ini ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat, termasuk lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif, komunitas agama, pelaku ekonomi, dan masyarakat sipil untuk bangkit bersama membangun harapan baru bagi Indonesia.

LAINNYA
error: Content is protected !!