NABIRE – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah secara resmi menutup rangkaian Festival Kopi Papua Tengah 2026 berlangsung selama dua hari, Penutupan ini menjadi momentum strategis bagi pemerintah daerah untuk menegaskan bahwa pengembangan kopi lokal tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata, melainkan harus ditindaklanjuti dengan program nyata untuk menembus pasar nasional hingga internasional. Pembukaan Kamis hingga penutupan Jumat (24-25/11/2026) sore.
Acara penutupan berlangsung di Aula KSK Bukit Meriam, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Morgo, Kabupaten Nabire, tepat pukul 15.37 WIT. Gubernur Papua Tengah, Meki F. Nawipa, yang berhalangan hadir, diwakili oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Papua Tengah, Dr. H. Tumiran, S.Sos., M.AP.
Membacakan sambutan gubernur, Tumiran menegaskan bahwa festival ini dirancang sebagai ruang kolaborasi strategis antara petani, kelompok tani, koperasi, pelaku UMKM, pengusaha kopi, dan calon pembeli untuk membangun jejaring pemasaran yang kuat.
“Pengembangan Kopi Papua Tengah tidak boleh berhenti pada kegiatan festival, tetapi harus ditindaklanjuti melalui program nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” tegas Tumiran di hadapan para peserta.

Ia menambahkan, Gubernur Meki Nawipa memandang kopi sebagai kekayaan alam, identitas daerah, sekaligus sumber penghidupan utama masyarakat. Oleh karena itu, pengelolaannya harus dilakukan secara serius. Dalam rantai nilai industri kopi, petani harus tetap menjadi pihak yang memperoleh manfaat utama dari peningkatan nilai ekonomi komoditas ini.
Untuk mewujudkan target pasar global, Tumiran memastikan bahwa Pemprov akan memfasilitasi pendampingan berkelanjutan. Para petani didorong untuk meningkatkan kualitas budidaya dan menjaga mutu panen, sementara pelaku UMKM dan pengusaha kopi diminta untuk terus berinovasi.
Lebih jauh, pengembangan industri kopi ini juga diharapkan mampu membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru bagi generasi muda, sehingga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang berkontribusi langsung pada pembangunan daerah.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Kopi Papua Tengah 2026, Andreas Gobai, mengungkapkan bahwa pada hari kedua pelaksanaan, tim juri yang kompeten telah melakukan penilaian secara objektif, jujur, dan arif terhadap sejumlah kategori kompetisi.
“Kategori penilaian meliputi stand terbaik, biji kopi terbaik, serta jumlah kopi terbanyak yang dibawa oleh masing-masing peserta atau perwakilan kabupaten,” ujar Andreas.
Ia menjelaskan, penilaian tidak hanya berfokus pada kuantitas, tetapi juga memperhatikan kualitas biji kopi, proses pengolahan, penyajian, hingga kemampuan peserta dalam mempromosikan produk unggulan. Seluruh stand dari perwakilan delapan kabupaten, pelaku UMKM, dan komunitas kopi turut menjadi bagian dari proses penilaian ini.
Andreas mengakui masih adanya sejumlah kekurangan dalam penyelenggaraan festival tahun ini. Namun, ia berharap kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membangun penyelenggaraan yang lebih baik di masa depan. Menurutnya, pengembangan kopi Papua Tengah membutuhkan konsistensi, kemauan belajar, dan keseriusan seluruh pihak, mulai dari hulu hingga hilir.
Di akhir acara, Pemprov Papua Tengah menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, peserta, narasumber, petani, dan pelaku UMKM yang telah menyukseskan festival.
Penutupan festival ini secara resmi menjadi “garis start” bagi pekerjaan rumah yang lebih besar memastikan kopi Papua Tengah tidak hanya dikenal karena cita rasanya yang khas, tetapi juga mampu menyejahterakan petani dan mengangkat nama daerah di panggung global.