MENU Sabtu, 26 Sep 2026

KURIKULUM TIDAK DIATUR DARI JAUH

waktu baca 6 menit
Sabtu, 26 Sep 2026 20:09 26 admin

Melainkan Disusun Guru Sesuai Kebutuhan dan Kebiasaan Setempat

Oleh : Yudas Degei

Pendidikan adalah hak setiap anak, di mana pun ia berada. Namun kenyataannya, seringkali apa yang diajarkan di ruang-ruang kelas tidak tumbuh dari tanah tempat anak-anak berpijak. Kurikulum disusun di tempat jauh, disesuaikan dengan keadaan yang berbeda, lalu dikirim ke seluruh negeri seolah-olah semua tempat sama persis. Padahal, setiap daerah memiliki alam yang berbeda, budaya yang berbeda, bahasa yang berbeda, dan cara hidup yang berbeda pula.

Kurikulum bukanlah sesuatu yang ditetapkan sekali lalu dipaksakan sama untuk semua. Yang paling memahami anak-anak bukanlah orang yang duduk di ruangan jauh — melainkan guru yang berdiri setiap hari di depan mereka. Gurulah yang melihat bagaimana mereka tumbuh, apa yang mereka ketahui, dan apa yang kelak akan berguna bagi kehidupan mereka. Karena itulah, gurulah yang berhak mengatur dan menyesuaikan cara mengajar -sesuai dengan kebiasaan, kenyataan, dan kebutuhan di tempatnya sendiri.

Mengapa Kurikulum Dari Jauh Tidak Selalu Sesuai?

Kurikulum yang disusun tanpa mengenal kenyataan di lapangan ibarat peta yang digambar tanpa pernah melihat negeri yang dipetakannya. Ia mungkin tampak rapi di atas kertas, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan di tanah.

– Anak-anak di tempat kita tumbuh di tengah lingkungan yang kaya akan hutan, sungai, dan gunung — tetapi buku pelajaran justru berbicara tentang gedung tinggi, kota besar, atau tempat yang tidak pernah mereka lihat.
– Mereka hidup dalam masyarakat yang menjunjung kekeluargaan, gotong royong, dan hormat kepada orang tua — tetapi pelajaran seringkali mengajarkan nilai-nilai yang asing dari kebiasaan tersebut.
– Mereka mengenal dunia pertama kali melalui cerita lisan, pengalaman langsung, dan kerja nyata — tetapi cara mengajar seringkali hanya mengandalkan hafalan dan bacaan yang tidak terhubung dengan kehidupan sehari-hari.

Akibatnya, ilmu yang dipelajari terasa jauh dan tidak bermakna. Anak-anak menghafal untuk ujian, lalu melupakan begitu saja — karena ilmu itu tidak menjadi bagian dari hidup mereka. Padahal pendidikan yang sejati adalah yang menyatu dengan kehidupan, bukan sesuatu yang berdiri sendiri di luar kenyataan.

Gurulah yang Paling Mengerti Anak Didiknya

Guru bukan sekadar penyampai isi buku. Gurulah orang yang paling dekat dengan anak-anak, yang mengenal mereka secara utuh:

– Ia tahu bahasa apa yang dipakai anak-anak saat berbicara di rumah, sehingga bisa memilih kata-kata yang paling mudah dipahami;
– Ia tahu kapan anak-anak lebih semangat belajar, kapan mereka lelah, dan cara apa yang paling tepat untuk membangkitkan minat mereka;
– Ia tahu nilai-nilai apa yang dijunjung tinggi di lingkungannya — sopan santun, gotong royong, penghormatan kepada leluhur — sehingga bisa menjadikannya bagian dari pendidikan, bukan sekadar pelajaran tambahan;
– Ia tahu kekayaan alam apa yang ada di sekitarnya, sehingga pelajaran tidak hanya berbicara secara teori, tetapi bisa dilihat, disentuh, dan dialami langsung;
– Ia tahu tantangan apa yang akan dihadapi anak-anak kelak — sehingga yang diajarkan bukan sekadar ilmu umum, melainkan kemampuan yang benar-benar berguna bagi kehidupan mereka di tempat ini.

Tidak ada orang lain yang mengetahui hal-hal ini selengkap guru yang setiap hari bersama mereka. Orang yang menyusun kurikulum di tempat jauh tidak mengenal anak-anak ini — mereka tidak tahu nama mereka, tidak tahu dari mana mereka datang, dan tidak tahu apa yang ada di hati mereka. Maka tidaklah tepat jika mereka yang menentukan apa yang harus dipelajari dan bagaimana caranya.

Bagaimana Guru Menyesuaikan Kurikulum?

Menyesuaikan kurikulum bukan berarti membuat aturan sendiri atau menolak ilmu yang sudah ada. Artinya, tetap mencapai tujuan yang sama, tetapi melalui jalan yang sesuai dengan anak-anak dan tempatnya.

Bidang Pelajaran Cara Disesuaikan Guru di Tempat
Alam & Lingkungan Bukan hanya membaca tentang hutan di tempat lain, tetapi mengenal pohon, sungai, dan hewan yang ada di sekitar sekolah. Belajar menjaga kebersihan sungai, menanam pohon, dan memahami manfaat hutan bagi kehidupan.
Bahasa & Komunikasi Menggunakan bahasa daerah sebagai jembatan sebelum mengenal bahasa nasional. Mengambil cerita rakyat, pepatah, dan pengalaman nyata sebagai bahan bacaan — sehingga anak-anak merasa bangga dengan bahasa dan budayanya sendiri.
Kehidupan Sosial & Budi Pekerti Mengajarkan sopan santun sesuai kebiasaan setempat: cara menyapa, cara duduk, cara berbicara kepada orang yang lebih tua, dan cara bekerja bersama-sama. Bukan sekadar teori, tetapi dipraktikkan setiap hari di sekolah.
Matematika & Pengetahuan Belajar berhitung melalui hal yang nyata: mengukur lahan kebun, menghitung hasil panen, menimbang hasil bumi. Belajar jarak, waktu, dan ukuran dari perjalanan yang biasa dilakukan warga.
Sejarah & Identitas Mengenal sejarah tempatnya sendiri — siapa leluhur mereka, bagaimana nama tempat itu berasal, dan apa perjuangan orang-orang terdahulu. Anak-anak tidak tumbuh tanpa mengetahui siapa mereka.

Dengan cara ini, anak-anak tidak lagi merasa ilmu itu asing. Mereka melihat bahwa apa yang dipelajari berguna, bermakna, dan menyambung dengan kehidupan mereka. Mereka bangga dengan asal-usulnya, sekaligus siap mengenal dunia luar dengan percaya diri.

Bukan Menolak Standar — Melainkan Membuat Ilmu Lebih Hidup

Perlu dipahami: menyesuaikan kurikulum bukan berarti menurunkan kualitas atau menolak standar pendidikan. Setiap anak tetap berhak belajar membaca, menulis, berhitung, mengenal bangsanya, dan memahami dunia. Itu adalah hak yang tidak boleh dikurangi.

Namun, jalan menuju ilmu itu bisa berbeda-beda. Seperti air yang mengalir ke arah yang sama, tetapi jalannya menyesuaikan dengan lekuk tanah. Tujuannya sama — cerdas, berilmu, berguna — tetapi caranya disesuaikan dengan siapa yang diajar dan di mana ia berada.

Jika kurikulum dipaksakan sama untuk semua tempat tanpa mengenal kenyataan, yang terjadi adalah:

– Anak-anak merasa malu dengan cara hidup orang tuanya;
– Mereka berpikir bahwa apa yang ada di tempat mereka tidak berharga;
– Mereka diajarkan cita-cita yang tidak sesuai dengan kenyataan di sekitarnya;
– Ilmu yang didapat tidak dipakai untuk membangun tempatnya sendiri, melainkan hanya untuk pergi ke tempat lain.

Sebaliknya, jika guru diberi kepercayaan menyesuaikan pelajaran:

– Anak-anak bangga dengan siapa mereka;
– Ilmu yang dipelajari menyatu dengan kehidupan dan terus diingat;
– Mereka siap melangkah ke mana saja tanpa kehilangan jati diri;
– Mereka juga mampu membangun tempatnya sendiri dengan ilmu yang dimilikinya.

Maka, kepada siapa pun yang menyusun kebijakan pendidikan, kepada para pemimpin, dan kepada kita semua:

Janganlah menetapkan satu ukuran untuk semua tempat. Percayalah kepada guru yang berdiri di tengah masyarakat. Berikan mereka kerangka dasar yang jelas, lalu berikan pula kebebasan dan kepercayaan untuk mengisi dan menyampaikannya sesuai dengan anak-anak yang mereka didik.

Kurikulum yang baik bukanlah yang sama persis di mana-mana, melainkan yang bermakna di mana pun ia berada. Gurulah orang yang paling tepat menjadikannya — karena ia tidak hanya mengajar kepala, tetapi juga menyentuh hati anak-anak yang dipercayakan kepadanya.

Pendidikan yang berakar dari tanah sendiri akan menghasilkan manusia yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijaksana. Tidak hanya mampu berbicara, tetapi juga mampu bertindak. Tidak hanya tahu banyak hal, tetapi juga tahu dari mana ia datang dan ke mana ia akan pergi.

Semoga ke depan, setiap anak di tanah ini mendapatkan pendidikan yang mengangkatnya tanpa memisahkannya dari akarnya. Semoga setiap guru diberi kepercayaan, kekuatan, dan kebijaksanaan untuk membimbing anak-anak sesuai dengan cara yang paling tepat — karena merekalah yang paling tahu.

Demikian pemikiran ini saya sampaikan sebagai bahan renungan dan perenungan bersama.

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik Touye Paapaa Deiyai

STATISTIK PEMBACA




  • Pemprov Papua Tengah Harapkan Layanan Hukum Jangkau Kampung
LAINNYA