JAYAPURA — Dewan Adat Papua (DAP) secara resmi menyatukan kembali barisan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) Perdamaian dan Persatuan Internal, yang berlangsung di Museum Loka Budaya Universitas Cenderawasih, Jayapura, pada Minggu (9/8/2026). Penandatanganan bersejarah ini bertepatan dengan Peringatan Hari Masyarakat Pribumi Internasional.
Dua pimpinan yang selama ini memimpin masing-masing kubu, yaitu Yan Pieter Yarangga dan Dominikus Surabut, bersama-sama menandatangani naskah kesepahaman sebagai tonggak berakhirnya dualisme kepemimpinan di tubuh DAP.
Dualisme kepemimpinan DAP bermula sejak Kongres Besar Masyarakat Adat Papua (KBMAP) III di Biak tahun 2015 yang memilih dan mengukuhkan Yan Pieter Yarangga sebagai Ketua DAP. Sementara itu, Kongres Luar Biasa Masyarakat Adat Papua (KLBMAP) di Wamena tahun 2017 memilih dan mengukuhkan Dominikus Surabut sebagai Ketua DAP. Terhitung sejak 2015 hingga awal Agustus 2026, perpecahan ini telah berlangsung selama 10 tahun 7 bulan.
Proses rekonsiliasi telah dimulai lebih dulu pada Minggu, 2 Agustus 2026, di kediaman Mananwir Beba Yan Pieter Yarangga di Sumberker, Samofa, Biak, dekat Goa Jepang. Pada tahap tersebut telah dilaksanakan tiga prosesi adat, yaitu: Mansorandak, Payasyos, dan Anankayame, sekaligus penandatanganan awal naskah MOU.
Kondisi kesehatan Yan Pieter Yarangga yang tidak memungkinkan untuk hadir langsung ke Jayapura membuat naskah MOU telah lebih dulu ditandatangani beliau bersama Dominikus Surabut di Biak, kemudian dibacakan dan disaksikan para saksi dalam acara di Jayapura.
Penandatanganan MOU disaksikan sebagai saksi faktual antara lain: Wellem Rumaseb (Sekretaris Umum DAP Kantor Ekspo), Yohanis Ronsumbre (Wakil Sekjend DAP Kantor Kampkey), Christianus Dogopia (Sekretaris Tim Kerja Rekonsiliasi), serta Emanuel Gobay dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
Proses rekonsiliasi ini dimediasi dan difasilitasi oleh Pdt. Dr. Beny Giay selaku Moderator Dewan Gereja Papua, dengan Selpius Bobii selaku Koordinator Tim Kerja Rekonsiliasi.
Acara di Jayapura berjalan khidmat dan penuh kebersamaan, meliputi:
1.Ibadah Syukur Oikumene dipimpin Pdt. Ezrah Abisai dan Pater Yan Douw, diiringi puji-pujian Palem Prayers Team Metzad West Papua.
2.Sambutan disampaikan Selpius Bobii selaku Koordinator Tim Kerja.
3.Tarian dan kesenian dibawakan mahasiswa-mahasiswi dari wilayah adat Tambraw.
4.Penandatanganan MOU dipandu Christianus Dogopia.
5.Pidato Dewan Adat Papua disampaikan Dominikus Surabut.
6.Laporan Panitia disampaikan Petrus Krar.
7.Makan Bersama dibagi daging babi barapen dari dua ekor, dipimpin langsung kedua pimpinan DAP kepada tujuh kelompok wilayah adat Papua, serta tamu lainnya.
Dengan ditandatanganinya MOU ini, Dewan Adat Papua secara resmi kembali bersatu, berharap dapat lebih maksimal memperjuangkan dan melindungi hak-hak masyarakat adat di seluruh Tanah Papua.
